Menurutnya, meskipun tidak semua persoalan supply chain dapat diselesaikan sekaligus, perbaikan sebagian kecil hambatan saja berpotensi menghasilkan penghematan biaya yang signifikan bagi dunia usaha maupun perekonomian nasional.

“100% masalah mungkin tidak terselesaikan.

Tetapi kalau 100% dari masalah yang ada tadi, dan minimal 10% saja terselesaikan, berapa duit yang bisa dihemat,” ungkapnya.

Kolaborasi Jadi Kunci

Sementara itu, Ketua Dewan Pakar Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Nofrisel menilai logistik sebenarnya telah masuk dalam agenda strategis pemerintah.

Berbagai program penguatan sistem logistik nasional juga terus disiapkan, termasuk penyusunan regulasi baru untuk memperkuat Sistem Logistik Nasional.

Sebagaimana diketahui, Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Penguatan Logistik Nasional telah mencapai tahap akhir. Kabarnya, dokumen tersebut telah sampai di meja Prabowo Subianto, tetapi belum kunjung diterbitkan.

Adapun, Nofrisel melihat tantangan terbesar justru terletak pada koordinasi antarlembaga yang mengatur sektor tersebut. Menurutnya, tata kelola logistik Indonesia melibatkan banyak kementerian dan instansi dengan kewenangan yang berbeda-beda.

Transportasi berada di bawah Kementerian Perhubungan, pergudangan terkait dengan Kementerian Perdagangan, sementara layanan lainnya diatur oleh institusi yang berbeda.

Kondisi tersebut membuat keberhasilan transformasi logistik sangat bergantung pada kemampuan kolaborasi lintas sektor.

Dia mencontohkan National Logistics Ecosystem (NLE) yang secara teknis telah dirancang dengan baik untuk menyederhanakan proses logistik nasional.

Namun, pemanfaatannya oleh pelaku usaha masih belum optimal sehingga manfaat integrasi yang diharapkan belum sepenuhnya tercapai.

Karena itu, menurut Nofrisel, kolaborasi menjadi kebutuhan mutlak dalam pengembangan supply chain modern. Tanpa koordinasi yang kuat, berbagai inisiatif yang telah dibangun berisiko berjalan sendiri-sendiri.

Di sisi lain, dia melihat perkembangan positif dari sisi sumber daya manusia.

Minat generasi muda terhadap bidang logistik dan supply chain terus meningkat seiring kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang memiliki keahlian spesifik.

Sejumlah program pendidikan dan pelatihan juga mulai dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut, mulai dari manajemen pergudangan hingga logistics engineering.

Tantangannya kini adalah memastikan penguatan SDM berjalan seiring dengan perbaikan kebijakan, koordinasi, dan integrasi infrastruktur yang selama ini menjadi hambatan utama.

“Saat ini minat untuk bidang logistik dan supply chain itu sangat tinggi karena orang sekarang butuh spesialis ketimbang generalis.

>>> Prabowo Panggil Luhut dan Chatib Basri ke Istana di Tengah Isu Reshuffle

Tetapi beberapa perguruan tinggi belum punya jurusan itu,” ungkapnya.