Indonesia masih menghadapi sejumlah hambatan dalam mempercepat transisi ke kendaraan berat nol emisi (ZEHDV).

Hal ini menjadi sorotan dalam Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle (IZEHDV) Summit 2026 yang digelar di Jakarta.

>>> Rupiah Melemah ke Rp17.963 per Dolar AS Sore Ini

Acara tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan. Tujuannya untuk mempercepat transformasi sektor logistik menuju kendaraan berat rendah emisi.

WRI Indonesia memaparkan bahwa sektor transportasi barang masih sangat bergantung pada bahan bakar diesel. Selama 2019-2024, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp415,84 triliun untuk subsidi dan kompensasi solar.

Meski truk hanya sekitar 3,7 persen dari total populasi kendaraan bermotor, sektor ini menyumbang sekitar 31,7 persen emisi transportasi darat.

Hal ini menjadikannya sektor strategis dalam agenda dekarbonisasi nasional.

Tiga Tantangan Utama

Senior Manager for Resilient Cities WRI Indonesia, I Made Vikannanda, menegaskan bahwa elektrifikasi kendaraan berat bukan sekadar mengganti teknologi.

Transformasi ini membutuhkan ekosistem yang utuh, mulai dari kebijakan, investasi, kesiapan industri, hingga infrastruktur pengisian daya.

WRI Indonesia mengidentifikasi setidaknya tiga tantangan utama yang menghambat adopsi truk listrik di Indonesia.

Pertama, harga investasi awal yang masih tinggi.

Saat ini, harga truk listrik sekitar 2 hingga 3,5 kali lebih mahal dibandingkan truk diesel, dengan tambahan investasi mencapai Rp570 juta hingga Rp5 miliar per unit.

Kedua, ketersediaan model kendaraan yang belum sesuai kebutuhan pasar.

>>> Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Penuhi Panggilan Kejagung

Sebagian besar permintaan kendaraan niaga Indonesia berada pada segmen truk ringan dan pick-up, namun pilihan truk listrik di segmen tersebut masih sangat terbatas.