Selain integrasi kawasan, dia juga menyoroti pentingnya pengembangan reverse logistics sebagai bagian dari agenda keberlanjutan.

Di sejumlah negara, perusahaan telah memiliki unit khusus yang bertugas mengambil kembali produk atau limbah dari konsumen untuk diolah menjadi produk baru yang bernilai ekonomi.

Menurutnya, model tersebut masih membutuhkan dukungan regulasi yang lebih kuat di Indonesia, terutama terkait pengelolaan limbah agar proses daur ulang dapat berjalan secara lebih efektif dan ekonomis.

“Jadi yang pertama, kita memerlukan business support untuk setiap unit perusahaan yang ada,” tuturnya.

Yudi juga menilai Indonesia dapat belajar dari Malaysia yang lebih dahulu membangun sistem transportasi dan logistik yang terintegrasi.

Di negara tersebut, konektivitas antarmoda telah disiapkan sejak awal sehingga perpindahan orang maupun barang dapat berlangsung lebih efisien.

Saat ini Malaysia bahkan tengah mengembangkan proyek East Coast Rail Link (ECRL) yang dirancang untuk memperkuat distribusi komoditas dan barang dari wilayah produksi menuju pusat konsumsi.

Menurutnya, proyek tersebut menunjukkan bahwa logistik telah ditempatkan sebagai agenda strategis nasional.

Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memastikan berbagai infrastruktur yang telah dibangun dapat beroperasi sebagai satu kesatuan sistem.

>>> Pendaftaran SPMB SMA dan SMK Negeri Sumut 2026 Dibuka, Ini Jalur dan Jadwalnya

Karena itu, dia menilai diperlukan keberpihakan kebijakan yang lebih kuat agar logistik benar-benar menjadi prioritas pembangunan.

Di saat yang sama, Yudi melihat munculnya kebutuhan baru di sektor logistik, yakni pengembangan jurusan baru di universitas terkait bidang logistics engineering dan supply chain analytics.

Pemanfaatan analisis data dinilai akan semakin penting untuk memprediksi perilaku konsumen, pola pergerakan kendaraan, hingga pengambilan keputusan bisnis yang lebih efisien.