Ekspor aluminium China melonjak pada Mei 2026, membantu mengisi kekurangan pasokan global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Di sisi lain, impor minyak mentah China terus merosot ke level terendah dalam delapan tahun.

>>> Rupiah Spot Menguat 0,28 Persen ke Rp 18.137 per Dolar AS pada 9 Juni 2026

Menurut data bea cukai China yang dirilis Selasa (9/6/2026), pengiriman aluminium naik 16% dari tahun sebelumnya menjadi 630.000 ton.

Pabrik peleburan di negara produsen terbesar dunia itu memaksimalkan produksi untuk meraih lebih banyak penjualan internasional setelah perang menghentikan pasokan dari wilayah penghasil utama dan mendorong harga naik.

Sementara itu, impor minyak mentah China anjlok 29% menjadi 33,1 juta ton, terendah sejak Februari 2018.

Kerusakan pada fasilitas ekspor dan kendala serius pada kapal di Teluk Persia terus membatasi pembelian minyak dan gas dari kawasan tersebut.

Impor gas alam China tetap stabil di 10,1 juta ton, namun pembeli beralih ke pemasok lain untuk menutupi kekurangan pengiriman dari Qatar.

Sementara itu, kilang minyak mengurangi produksi bahan bakar daripada berebut sumber minyak mentah alternatif, menandakan menurunnya permintaan jangka panjang.

>>> Pengamat Prediksi Peta Persaingan Fase Grup Piala Dunia 2026

Ekspor produk minyak China turun 24% pada Mei menjadi 3,37 juta ton, meskipun angka tersebut sedikit lebih tinggi dibanding April setelah China mengizinkan beberapa pengiriman untuk mengurangi kekurangan di negara tetangga.

Pembelian batu bara juga lesu, turun 7,7% menjadi 33,3 juta ton, karena cadangan domestik yang melimpah membatasi permintaan impor yang lebih mahal.

Di sektor lain, ekspor pupuk China turun 5,5% menjadi 2,97 juta ton sebagai respons untuk menghemat pasokan domestik.

Ekspor baja juga menurun 2,2% menjadi 10,3 juta ton karena tekanan inflasi akibat perang membuat pembeli luar negeri lebih berhati-hati.

Impor logam tembaga naik 4,4% untuk mengimbangi dampak pemeliharaan musiman di pabrik peleburan domestik, sementara bijih tembaga turun 1,4%.

>>> Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,50 Persen, Perkuat Stabilitas Rupiah

Impor bijih besi turun 0,4%, dan kedelai turun 15% pada Mei, meskipun angka tersebut lebih tinggi dibanding April karena lebih banyak kargo AS yang melewati bea cukai bersamaan dengan pasokan Brasil.