Volkswagen memproyeksikan bahwa transisi global menuju kendaraan listrik akan terus berjalan konsisten. Akibatnya, opsi mobil bermesin pembakaran internal (ICE) diprediksi semakin menyusut seiring waktu.

Martin Sander, anggota dewan Volkswagen yang membawahi penjualan, pemasaran, dan purnajual, memberikan perumpamaan.

>>> Cara Membuat SIM Digital Lewat Aplikasi Digital Korlantas Polri

Ia mengibaratkan keberadaan mobil konvensional di masa depan seperti kuda di era modern yang bukan lagi sarana transportasi utama.

Menurut Sander, akselerasi adopsi kendaraan ramah lingkungan tidak bisa hanya bertumpu pada regulasi atau larangan pemerintah.

Industri otomotif harus menunjukkan nilai guna dan manfaat riil teknologi elektrifikasi kepada konsumen.

"Saya tidak menyukai diskusi yang hanya berfokus pada larangan mesin pembakaran internal.

Jika ingin konsumen beralih, tunjukkan manfaatnya, bukan sekadar membicarakan kapan kendaraan lama tidak lagi diizinkan," ujar Sander dikutip Carscoops, Senin (8/6/2026).

Pendekatan yang hanya melarang dinilai kurang efektif. Konsumen yang terbiasa dengan mobil bensin atau diesel selama puluhan tahun memerlukan argumen kuat sebelum beralih.

>>> Polri Tetapkan Biaya Perpanjangan SIM C Rp75 Ribu, Berlaku Nasional

Langkah strategis produsen harus diarahkan pada penguatan ekosistem, termasuk perluasan infrastruktur pengisian daya, edukasi keunggulan mobil listrik, dan penekanan biaya energi.

Hambatan kepemilikan yang berkurang diyakini akan mendorong migrasi massal ke segmen elektrifikasi.

"Bisa saja pada 2035 hanya tersisa tiga, empat, atau lima persen konsumen yang masih menginginkan kendaraan ICE," katanya.

Strategi Volkswagen di Pasar Eropa dan China

Untuk Eropa, Volkswagen belum berencana membawa kendaraan listrik range extender (EREV) yang populer di China. Manajemen menilai permintaan teknologi penyokong jarak tempuh itu belum kuat di Eropa.

Meski demikian, Volkswagen menjadikan pengalaman pengembangan ekosistem elektrifikasi di China sebagai modal penting. Langkah ini diambil untuk mendongkrak daya saing global menghadapi penetrasi produsen China.

"Apa yang kami pelajari di China akan membantu kami tetap kompetitif di pasar lain. Fokus kami adalah skala produksi, efisiensi, dan biaya.

>>> ASDP Anjurkan Kapasitas Baterai Motor Listrik 30 Persen Saat Dikirim

Kami harus kompetitif, tidak ada alternatif lain," ujar Sander.