Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Senin (8/6/2026).

Harga saham emiten perbankan swasta ini merosot 4,43% ke posisi Rp 4.850 per lembar.

>>> MotoGP Ubah Jarak Grid Start Mulai GP Jerman 2026

Level tersebut menjadi yang terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir, berdasarkan laporan Investor Daily. Penurunan ini melanjutkan tren negatif yang sudah berlangsung sejak 3 Juni 2026.

Volume perdagangan saham BBCA tercatat mencapai 705,09 juta lembar dengan frekuensi 117.342 kali. Total nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp 3,47 triliun.

Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 489,11 miliar pada saham BBCA.

Namun, data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan adanya pergerakan investor asing yang justru mengoleksi saham ini.

Broker Mandiri Sekuritas membukukan aksi beli bersih (net buy) untuk investor asing sebesar Rp 303,8 miliar dengan harga rata-rata Rp 4.931.

>>> Pemerintah Mulai Siapkan Haji 2027, Negosiasikan Aturan Syarikah

Aksi beli bersih juga dicatatkan oleh Maybank Sekuritas Rp 184,9 miliar, Bahana Sekuritas Rp 171,2 miliar, dan JP Morgan Sekuritas Rp 165,5 miliar.

Di sisi lain, tekanan jual yang signifikan datang dari broker UBS Sekuritas. Broker tersebut membukukan net sell untuk investor asing pada saham BBCA hingga mencapai Rp 901 miliar.

Dalam sepekan terakhir, saham emiten yang berafiliasi dengan Grup Djarum ini sudah merosot 14,91%. Total net sell asing dalam periode tersebut mencapai Rp 2,78 triliun.

Untuk perdagangan Selasa (9/6/2026), CGS International Sekuritas memproyeksikan target support pertama saham BBCA berada pada level 4.783 dan support kedua di posisi 4.717.

>>> Kejagung Temukan Markup Pengadaan Motor Listrik Makan Bergizi Gratis

Sementara itu, resistance pertama diperkirakan di level 4.983 dan resistance kedua di angka 5.117.