Pasar ekuitas di Asia bersiap bangkit dari koreksi terdalam sejak Maret lalu, mengikuti tren penguatan di Wall Street pada Selasa, 9 Juni 2026.

Pemulihan ini dipicu oleh komitmen Iran dan Israel untuk meredakan ketegangan militer serta meroketnya kembali saham produsen cip global.

>>> Harga Emas Terancam Merosot ke Level Empat Ribu Dolar AS

Kontrak berjangka menunjukkan potensi lonjakan indeks Nikkei 225 di Tokyo hingga lebih dari 2 persen.

Padahal, bursa Jepang tersebut baru saja anjlok hampir 4 persen pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026.

Sinyal penguatan tipis juga terlihat pada kontrak berjangka di Sydney dan pembukaan moderat di bursa Hong Kong.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia stabil setelah meredanya konflik Timur Tengah.

Tren positif ini didukung oleh kembalinya para pelaku pasar yang memanfaatkan momentum untuk membanjiri bursa Amerika Serikat. Optimisme pasar dikonfirmasi oleh analis dari berbagai lembaga keuangan global.

Pandangan Analis

Mike Wilson dari Morgan Stanley menilai aksi jual saham akibat penyesuaian portofolio sebagai langkah wajar. Ia tetap optimistis terhadap prospek pasar karena ditopang laba perusahaan yang solid.

"Pasar jarang bergerak dalam garis lurus secepat yang terlihat sejak level terendah pada Maret lalu," ujar Wilson.

>>> Bapanas Perketat Pengawasan Residu Pestisida pada Pangan Segar

Ia menambahkan bahwa koreksi berkala merupakan siklus yang wajar dalam pergerakan pasar saham.

Citigroup Inc melalui tim strategi pimpinan Scott Chronert menaikkan target akhir tahun untuk indeks S&P 500. Kenaikan tersebut didasarkan pada lonjakan besar ekspektasi laba bersih emiten.

Mark Haefele dari UBS Global Wealth Management menilai kepercayaan investor terhadap masa depan teknologi kecerdasan buatan masih sangat kokoh.

Menurutnya, fundamental bisnis sektor teknologi tidak terganggu meskipun sempat mengalami tekanan jangka pendek.

"Kami tidak memperkirakan investor akan kehilangan kepercayaan pada prospek sektor AI," kata Haefele. Ia menegaskan fundamental tetap kuat di tengah kekhawatiran pasar baru-baru ini.

Sebaliknya, Bank of America Securities melalui tim strategi pimpinan Savita Subramanian memperingatkan munculnya banyak sinyal pasar lesu. Dalam nota analisis tanggal 5 Juni, mereka menyebut indeks mendekati puncak.

>>> Potensi Macet di Senayan Jelang Laga Indonesia vs Mozambik

"Terlalu banyak lampu merah," tulis Subramanian. Oleh karena itu, pihaknya merekomendasikan para pelaku pasar untuk segera melakukan aksi ambil untung demi menghindari kerugian.