"Artinya kami tidak buka yang baru dulu, maupun pendaftarannya. Jadi kami mau menata," lanjut Nanik.

Pengawasan ketat terhadap kualitas makanan yang diproduksi di setiap dapur juga menjadi prioritas kerja penataan operasional.

Hal ini bertujuan memastikan seluruh proses pengolahan makanan berjalan sesuai petunjuk teknis yang berlaku.

"Apakah 63 juta yang sekarang ada ini, bener butuh? Atau sebetulnya bisa dikurangi, nanti kami tambah dari yang belum memperoleh," kata Nanik.

Khusus untuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), BGN berupaya mencari alternatif pembiayaan di luar APBN.

Langkah ini diambil setelah melihat adanya ketertarikan dari pihak swasta untuk ikut serta membangun fasilitas di kawasan tersebut.

"Terakhir untuk 3T, ini kami akan mencoba mengurangi tidak menggunakan APBN, mencoba. Tetapi tadi belum ke sini sudah didemo.

Rupanya ada investor yang sudah membangun 3T," kata Nanik.

Untuk wilayah-wilayah 3T yang belum mendapatkan jangkauan investasi, skema kerja sama lain akan dijajaki.

Pemanfaatan dana CSR dari BUMN, hibah luar negeri, serta kemitraan dengan perusahaan besar setempat menjadi opsi pendanaan alternatif.

"Kami akan selesaikan bagaimana sebaiknya.

>>> KPK Tahan Dua Bos Travel Haji Terkait Korupsi Kuota

Tapi untuk wilayah-wilayah yang belum digarap investor, kami akan coba kerja sama atau bisa dibiayai dengan CSR-nya BUMN, atau hibah luar negeri, atau di tempat itu ada perusahaan besar yang investasi," tutup Nanik.