Pemerintah Jepang tetap gencar mengampanyekan penggunaan kontrasepsi di tengah penurunan angka kelahiran yang signifikan.

Langkah ini diambil bukan untuk menekan jumlah kelahiran, melainkan demi mencapai tujuan kesehatan yang lain.

>>> Pemerintah Salurkan Dana PIP 2026 Secara Bertahap Lewat Tiga Termin

Kebijakan tersebut sempat memicu pertanyaan publik karena Jepang sedang berupaya mengatasi krisis demografi. Angka kelahiran di negara itu menyentuh rekor terendah selama 10 tahun berturut-turut sejak 1899.

Kendati demikian, pemerintah setempat semakin aktif mendorong masyarakat untuk memahami perencanaan kehamilan yang sehat.

Peningkatan literasi kesehatan reproduksi dinilai menjadi langkah krusial dalam memahami faktor kesuburan serta kesehatan ibu dan bayi.

Program Edukasi Kontrasepsi dan Perawatan Pra-Konsepsi

Program edukasi kontrasepsi ini bertujuan membantu masyarakat merencanakan kehamilan yang lebih aman. Konsep yang sedang gencar dipromosikan oleh pemerintah Jepang dikenal dengan istilah preconception care atau perawatan pra-konsepsi.

Pendekatan ini mengarahkan perempuan maupun laki-laki untuk mengenali kondisi reproduksi dan risiko yang dapat memengaruhi kehamilan. Konsep perawatan pra-konsepsi pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 2006.

Sistem ini menjadi bagian dari kebijakan resmi pemerintah Jepang sejak 2018. Melalui edukasi sejak usia muda, masyarakat diharapkan mampu mengambil keputusan reproduksi yang lebih matang di masa depan.

>>> John Herdman Siapkan Rotasi Skuad Timnas Indonesia Kontra Mozambik

Peningkatan Risiko Kehamilan

Kepala Pusat Preconception Care di National Center for Child Health and Development Jepang, Asako Mito, menjelaskan bahwa kasus persalinan berisiko tinggi terus meningkat.

Kondisi ini dipicu oleh faktor usia ibu yang semakin tua, berat badan kurang, hingga obesitas.

Mito juga menyoroti tingkat literasi kesehatan reproduksi yang masih rendah di kalangan publik Jepang. "Penting untuk melengkapinya dengan pendidikan seks komprehensif berstandar internasional," kata Mito.

Program perawatan pra-konsepsi juga fokus pada kesehatan fisik dan mental masyarakat secara umum, bukan hanya untuk pasangan yang ingin punya anak.

Pengetahuan ini terbukti secara ilmiah dapat menurunkan risiko komplikasi kehamilan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut menyatakan bahwa intervensi sebelum kehamilan membawa dampak positif bagi generasi masa depan.

>>> Kemenkes Lanjutkan Aturan Kemasan Polos, Industri dan Petani Tembakau Menolak

WHO menegaskan bahwa kesehatan reproduksi berkaitan erat dengan kualitas hidup seseorang secara keseluruhan.