"Seandainya manusia benar-benar memahami dengan ilmu yang benar tentang hakikat dunia dan akhirat, tentu mereka tidak akan lebih memilih kenikmatan dunia yang fana dibandingkan pahala dan kebaikan akhirat yang kekal abadi," ungkap Ahsanul Falihin.

Melalui tuntunan ayat ini, kaum muslimin didorong untuk melakukan reorientasi terhadap skala prioritas dalam kehidupan sehari-hari.

Pencapaian seperti kesuksesan karier, harta benda, jabatan, maupun kesenangan dunia lainnya tetap dapat dikejar secara optimal, namun tidak boleh memalingkan fokus utama dari upaya menggapai rida Allah.

>>> BGN Efisiensikan Anggaran Makan Bergizi Gratis, Cari Dana Alternatif

Prinsip ini menegaskan bahwa realitas kehidupan yang sesungguhnya bukanlah apa yang sedang dinikmati manusia saat ini. Kehidupan yang hakiki berada di fase akhirat yang membentang tanpa batas waktu.