>>> Pencairan PKH Tahap 2 Berakhir Juni 2026, Kemensos Imbau KPM Cek Status

Dalam kunjungannya, Xi didampingi oleh istrinya Peng Liyuan, Kepala Staf Cai Qi, dan Menteri Luar Negeri Wang Yi.

Jalan-jalan utama Pyongyang dipenuhi bendera kedua negara.

Peneliti senior Asia Society, John Delury, berpendapat bahwa kunjungan ini dilakukan untuk mempertahankan tradisi hubungan erat kedua negara meskipun kondisi geopolitik saat ini sudah jauh berubah.

"Kunjungan ini bertujuan menjaga tradisi tetap hidup dalam kondisi yang sangat berbeda dibanding perjalanan terakhirnya," ujar Delury.

Hubungan kedua negara semakin intensif setelah Korea Utara membuka kembali aktivitas lintas batas pascapandemi COVID-19 dan Maskapai Air China mengoperasikan kembali penerbangan langsung Beijing-Pyongyang sejak Maret lalu.

Meningkatnya hubungan ini juga dinilai memengaruhi posisi tawar Korea Utara dalam menghadapi tekanan diplomatik dari blok barat.

"Keberlanjutan hubungan yang semakin baik antara Korea Utara-Rusia dan meningkatnya hubungan Korea Utara-China dapat memengaruhi berapa lama Kim mampu terus mengabaikan Washington dan Seoul," kata Sydney Seiler, peneliti dari Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Menjelang kedatangan Xi, Korea Utara memamerkan kekuatan militer dengan mengumumkan rencana pembangunan kapal perusak angkatan laut berbobot 10.000 ton dan menegaskan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir.

Lembaga penelitian Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat Korea Utara saat ini diperkirakan memiliki sekitar 60 hulu ledak nuklir, meningkat dari 50 hulu ledak pada tahun sebelumnya.

>>> NASA dan Prada Rancang Pakaian Dalam Khusus untuk Misi Artemis IV

SIPRI juga memperkirakan Pyongyang terus meningkatkan produksi material fisil yang dapat digunakan untuk membuat setidaknya 30 hulu ledak nuklir tambahan.