Pemerintah Kota Utsunomiya di Jepang menghentikan sementara aktivitas di seluruh 94 sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada Senin (8/6/2026).

Langkah darurat ini diambil menyusul kemunculan beruang yang pertama kali tercatat dalam sejarah wilayah tersebut.

>>> GTR Ultra 2026: Lari Trail Lintasi Empat Puncak Gunung di Jawa Tengah

Penghentian kegiatan belajar mengajar menjadi tindakan preventif demi menjamin keselamatan para siswa serta staf pengajar.

Kota yang berjarak sekitar 100 kilometer di sebelah utara Tokyo ini dihuni oleh sekitar 500.000 jiwa.

Laporan awal mengenai keberadaan beruang muncul dari kawasan perumahan yang berdekatan dengan fasilitas taman pada Sabtu malam.

Petugas keamanan dan otoritas terkait masih melakukan pencarian aktif karena hewan tersebut belum ditemukan.

Penampakan terakhir dilaporkan pada Senin dini hari dengan posisi berjarak sekitar 500 meter dari sebuah sekolah menengah pertama.

Meningkatnya Konflik Manusia dan Beruang di Jepang

Kemunculan ini memperpanjang catatan konflik antara manusia dan beruang di Jepang yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

>>> Pep Guardiola Peringatkan Barcelona Soal Obsesi Liga Champions

Maraknya serangan beruang di wilayah perkotaan memicu pemerintah pusat membentuk satuan tugas khusus tahun ini guna menekan jumlah korban.

Sebelum insiden ini, serangan beruang juga terjadi di Kota Fukushima yang terletak di wilayah timur laut Jepang dan mengakibatkan empat orang terluka.

Data kamera pengawas dari fasilitas Fukushima Steel Works memperlihatkan seekor beruang hitam mengejar serta menjatuhkan seorang pekerja di pintu masuk pabrik.

Sejumlah pakar mengidentifikasi bahwa perubahan iklim menjadi pemicu utama bermigrasinya beruang ke area permukiman akibat berkurangnya pasokan makanan alami seperti biji ek dan kacang beech.

Penyusutan populasi penduduk di pedesaan serta banyaknya lahan pertanian terbengkalai juga membuat beruang kian berani mendekati wilayah manusia.

Spesies beruang hitam Asia sendiri masuk dalam kategori rentan secara global.

>>> Prabowo Tanggapi Kritik Media Asing soal Danantara

Kendati demikian, populasi satwa ini di Jepang justru melonjak hingga tiga kali lipat sejak tahun 2012 akibat penurunan aktivitas perburuan yang signifikan.