Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok mineral kritis dunia. Negeri ini menguasai sekitar 42% cadangan nikel global dan menyumbang hampir 67% produksi nikel dunia.

Dominasi tersebut menjadikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam transisi energi, terutama untuk kendaraan listrik, baterai, dan pusat data.

>>> Bobby Nasution Tuntut PLN Berikan Kompensasi Pemadaman Listrik di Sumut

Namun, keunggulan itu belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan pasar yang optimal.

Arsitektur Baru Kedaulatan Komoditas

Melalui Digital Sistem Indonesia (DSI) dan bursa mineral, pemerintah berupaya membangun arsitektur baru kedaulatan komoditas. Langkah ini bertujuan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Setiawan Budi Utomo, Pemerhati Keuangan dan Kebijakan Ekonomi, menyoroti pentingnya transformasi dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pengendali pasar.

>>> Pemerintah Salurkan Dana PIP 2026 dalam Tiga Termin

DSI dan bursa mineral diharapkan menjadi instrumen untuk mencapai tujuan tersebut.

Dengan sistem digital yang terintegrasi, Indonesia dapat memantau produksi, perdagangan, dan harga komoditas secara real-time. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat dan berdaulat.

Bursa mineral juga berperan sebagai platform transparan bagi perdagangan komoditas, mengurangi ketergantungan pada bursa internasional. Inisiatif ini sejalan dengan upaya hilirisasi yang telah berjalan.

>>> Kemendag Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Elektronik, Gantikan Permendag 31/2023

Meski demikian, tantangan masih ada, seperti infrastruktur digital dan kesiapan pelaku industri. Namun, dengan komitmen yang kuat, arsitektur baru ini dapat menjadi fondasi kedaulatan komoditas Indonesia.