Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli 2026 melonjak US$ 4,07 atau 4,50 persen menjadi US$ 94,61 per barel pada Senin.

Lonjakan ini dipicu oleh aksi militer Israel yang menyerang kompleks petrokimia Mahshahr dan sejumlah target militer lainnya di barat daya Iran.

>>> WHO: Pangan Tercemar Sebabkan 1,5 Juta Kematian per Tahun

Serangan tersebut merupakan operasi pertama yang menyasar situs energi Iran sejak gencatan senjata 8 April lalu.

Seorang pejabat provinsi setempat mengonfirmasi kepada kantor berita Fars bahwa sebagian fasilitas pabrik mengalami kerusakan.

Kondisi ini memperkecil harapan pasar atas kelancaran arus minyak mentah di Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Kenaikan harga pada Senin sekaligus menghapus kerugian pada Jumat, saat pasar sempat menguat karena ekspektasi de-eskalasi konflik AS-Iran.

Meski harga minyak telah naik hampir 60 persen sejak perang pecah akhir Februari, angkanya masih di bawah rekor tertinggi Maret saat Brent sempat menyentuh hampir US$ 120 per barel.

Eskalasi tetap tinggi setelah Iran meluncurkan rudal ke target Israel pada Minggu sebagai respons atas serangan di Lebanon.

>>> Prabowo Lantik Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional

Presiden AS Donald Trump dilaporkan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menahan diri, dan Trump yakin kesepakatan damai masih bisa diraih.

Duta Besar Iran untuk Moskow, Kazem Jalali, menyatakan Selat Hormuz akan tetap dibuka untuk pelayaran internasional, namun dengan syarat baru termasuk pengenaan biaya transit.

Teheran dan Oman akan menerapkan ketentuan baru tersebut.

Langkah pengetatan meluas setelah Iran memblokir mayoritas pengiriman logistik melalui Selat Hormuz, yang direspons Washington dengan blokade mandiri terhadap pelabuhan Iran.

OPEC+ telah menyepakati peningkatan volume produksi minyak mentah untuk keempat kalinya dalam empat bulan pada Minggu.

Namun, analis menilai kebijakan itu tidak akan berdampak besar karena hambatan operasional akibat penutupan Selat Hormuz dan kerusakan infrastruktur produksi Rusia.

>>> Prabowo Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional

Kepala analisis geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan dampak fisik dari keputusan tersebut akan mendekati nol.