Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin menekan keberlanjutan industri logistik nasional.

Kenaikan kurs memicu pembengkakan biaya impor dan seluruh elemen operasional, mulai dari pengadaan armada hingga distribusi.

>>> Jet Tempur NATO Tembak Jatuh Drone Misterius di Latvia

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) Budiyanto Darmastono menyatakan bahwa situasi ini langsung berdampak pada profitabilitas perusahaan.

"Kondisi ini pada akhirnya menekan margin perusahaan kurir, ekspres, dan logistik yang saat ini juga menghadapi persaingan tarif yang sangat ketat," ujarnya kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Fluktuasi mata uang asing turut mengerek biaya energi, pengemasan, sewa gudang, dan jasa penunjang lainnya. Budiyanto menilai durasi pelemahan rupiah menjadi faktor penentu utama bagi masa depan industri.

"Tidak ada angka kurs yang dapat dijadikan batas toleransi yang sama bagi seluruh perusahaan, karena setiap pelaku usaha memiliki struktur biaya yang berbeda.

Semakin lama kondisi tersebut berlangsung, semakin berat tekanan yang harus ditanggung industri," jelas Budiyanto.

Efisiensi Internal Jadi Prioritas

Untuk menghindari beban tambahan pada pelanggan, mayoritas perusahaan logistik saat ini memilih memaksimalkan efisiensi internal dan memacu produktivitas kerja.

>>> Israel dan Iran Saling Serang Rudal, Harga Minyak Brent Melonjak

Langkah ini ditempuh guna menahan laju kenaikan tarif kirim.

Penyesuaian harga layanan hanya akan menjadi pilihan terakhir apabila efisiensi sudah tidak mampu meredam lonjakan biaya.

"Misalnya ketika terjadi kenaikan harga BBM, armada, suku cadang, teknologi, biaya tenaga kerja, maupun biaya pergudangan secara bersamaan dan dalam periode yang panjang," terang Budiyanto.

Meskipun strategi lindung nilai atau hedging diterapkan oleh perusahaan besar dengan eksposur internasional, metode ini dinilai kurang efektif bagi pelaku logistik domestik.

Oleh karena itu, korporasi logistik dalam negeri lebih memprioritaskan manajemen risiko melalui optimalisasi jaringan distribusi, akselerasi digitalisasi, serta pengendalian biaya internal yang ketat.

Asperindo berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi makro demi kelancaran arus barang dan daya saing nasional.

>>> Shin Tae-yong Pastikan Mariano Peralta Gabung Persija Jakarta

"Hal ini supaya industri logistik tetap mampu mendukung kelancaran distribusi barang, daya saing usaha, dan pertumbuhan ekonomi nasional," tutup Budiyanto.