Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan signifikan akibat derasnya arus keluar dana investor asing.

Kondisi ini memicu pelemahan nilai tukar rupiah, koreksi indeks saham, dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah.

>>> Pemerintah Izinkan Impor Migas Langsung Lewat Skema G2G

Berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik lebih dari 30 basis poin menjadi 6,94% pada Senin (8/6/2026).

Kenaikan ini dipicu oleh aksi jual investor asing yang semakin agresif.

Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah 0,83% ke level Rp18.186 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 11.46 WIB.

Angka tersebut merupakan rekor terendah baru bagi mata uang Garuda.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat penurunan tajam sebesar 3,23% ke posisi 5.414,10 pada pukul 11.53 WIB.

>>> Gempa Filipina M 7,7 Picu Tsunami di Tujuh Wilayah Indonesia

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif di pasar modal domestik.

Kekhawatiran Kebijakan dan Cadangan Devisa

Analis Bloomberg, Garfield Reynolds, menyebut tekanan pasar dipicu kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko fiskal dan ketidakpastian ekonomi domestik.

Reynolds juga menyoroti cadangan devisa Indonesia yang terus menyusut.

Pada Mei lalu, posisi cadangan devisa turun untuk bulan kelima secara beruntun, mengindikasikan upaya stabilisasi rupiah oleh otoritas masih berlangsung.

>>> Kurs Rupiah Melemah ke Rp 18.201 per Dolar AS pada 8 Juni 2026

Pelaku pasar kini mencermati langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta meredam volatilitas di pasar obligasi dan saham domestik.