Banyak pemilik motor listrik beranggapan bahwa membeli charger aftermarket berkapasitas Ampere besar dapat mempercepat pengisian daya. Namun, anggapan itu keliru.

Fitur fast charging memerlukan modifikasi pada Battery Management System (BMS) dan unit baterai. Controller motor tidak memengaruhi proses penerimaan arus.

>>> Daftar Acara ANTV Selasa, 9 Juni 2026 Ada Mega Bollywood Mujhse Dosti Karoge Mega, Antara Cinta dan Dusta, Doriyaann, Series Thanak, Sayali, Vasudha, Teri Meri Plus Link

"Iya, dari BMS dan spesifikasi baterainya. Bukan dari controller," ujar Rifki kepada Kompas.

com.

BMS berfungsi sebagai pengawal keamanan yang melindungi sel baterai.

Jika charger mengalirkan arus melebihi batas toleransi BMS, sistem akan memutus atau membatasi pasokan energi untuk mencegah panas berlebih atau kebakaran.

"Kalau spesifikasi charger-nya besar, pasti akan di-cut oleh BMS. Jadi, percuma kalau pakai charger yang 10 Ampere, tapi di BMS-nya cuma 2,5 Ampere," kata Rifki.

>>> Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi US$ 144,9 Miliar per Mei 2026

Akibatnya, penggunaan charger 10 Ampere pada motor dengan BMS 2,5 Ampere tidak akan mempercepat pengisian. Arus yang mengalir tetap 2,5 Ampere.

Biaya dan Waktu Modifikasi

Pemilik yang ingin mengubah motor listrik standar agar kompatibel dengan fast charging harus mengganti paket baterai dan BMS.

Proses ini membutuhkan keahlian khusus dan harus ditangani teknisi kompeten.

Rifki menambahkan, biaya penggantian baterai bisa mencapai Rp4,5 juta, termasuk jasa. Lama pengerjaan berkisar antara lima hingga sepuluh hari.

>>> Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Terima Pelimpahan Kasus Richard Lee

Biaya tersebut bersifat fleksibel tergantung kapasitas Voltase, Ampere-hour, dan jenis sel baterai yang diinginkan. Konsultasi dengan bengkel spesialis disarankan sebelum membeli charger mahal.