Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 mencapai US$ 144,9 miliar.

Angka ini turun US$ 1,3 miliar dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 146,2 miliar.

>>> Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Terima Pelimpahan Kasus Richard Lee

Penurunan tersebut setara dengan sekitar Rp 23,5 triliun dengan asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS.

Informasi ini disampaikan BI dalam keterangan resmi pada Senin (8/6/2026).

Penyebab Penurunan Cadangan Devisa

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah, penerimaan pajak, dan jasa.

Di sisi lain, terdapat pembayaran utang luar negeri serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

"Perkembangan cadangan devisa Mei 2026 dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah BI," ujar Denny.

>>> Menteri ESDM Pastikan Aturan Sektor Minerba Tidak Berubah

Ia menambahkan bahwa kebijakan stabilisasi nilai tukar dilakukan sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman dari domestik.

Kecukupan Cadangan Devisa

Meski menurun, posisi cadangan devisa tersebut masih setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Menurut Denny, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

BI memproyeksikan ketahanan sektor eksternal ke depan akan tetap terjaga berkat posisi cadangan yang memadai dan aliran masuk modal asing yang berkelanjutan.

>>> Hindari Lokasi Ini Saat Bangun Rumah demi Cegah Dampak Gempa

"BI terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," pungkas Denny.