Membangun rumah tidak hanya soal luas lahan atau estetika. Lokasi tapak menjadi faktor paling krusial yang harus diperiksa terlebih dahulu.

Keamanan fondasi sangat bergantung pada kondisi permukaan tanah. Lahan yang aman menjadi kunci agar bangunan tidak mudah ambruk atau rusak.

>>> Harga Pangan Dunia Mulai Stabil pada Mei 2026

Indonesia berada di jalur tektonik dan pertemuan lempeng bumi, sehingga potensi gempa tinggi. Oleh karena itu, pemilihan lahan tidak boleh hanya melihat penampakan fisik.

Lokasi yang Harus Dihindari

Buku "Guidebook for Reconstruction of Earthquake Resistance Houses" dari Earthquake Engineering Research Institute menyusun daftar wilayah yang tidak boleh dijadikan lokasi hunian.

Daerah tepi sungai menjadi lokasi pertama yang wajib dihindari. Kawasan ini rawan banjir dan likuifaksi, yaitu pencairan massa tanah saat gempa.

Lahan dengan karakteristik tanah lunak juga berbahaya. Tanah lunak tidak memiliki daya dukung cukup untuk menopang beban bangunan.

>>> Bank Indonesia Catat Uang Primer Tumbuh 14,2 Persen pada Mei 2026

Pembangunan di tanah lunak memicu penurunan elevasi bangunan secara konstan. Akibatnya, dinding retak, bangunan miring, hingga amblas.

Tanah urugan memerlukan fondasi sangat kuat dan tertanam dalam hingga mencapai lapisan keras. Jika tidak, risiko kerusakan tinggi.

Area dekat lereng curam juga tidak disarankan. Medan sulit diakses dan rentan kolaps saat terjadi pergerakan tanah atau gempa.

Zona rawan longsor merupakan lokasi berbahaya lainnya. Risiko ancaman tidak hanya saat gempa, tetapi juga ketika curah hujan tinggi.

>>> Rupiah Melemah ke Rp 18.179 per Dolar AS pada Awal Pekan

Kesimpulannya, pemilihan lahan yang aman sangat penting untuk mencegah kerusakan akibat gempa. Hindari tepi sungai, tanah lunak, lereng curam, dan zona longsor.