Pasar mobil bekas saat ini menghadapi tekanan berat yang serupa dengan pasar kendaraan baru. Penurunan transaksi dipicu oleh perlambatan ekonomi serta melemahnya daya beli masyarakat.

Pengamat otomotif Bebin Djuanda menilai ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat cenderung menahan pengeluaran untuk pembelian kendaraan. Kondisi ini diperkirakan belum membaik dalam waktu dekat.

>>> Fabio Di Giannantonio Kritik Sikap Nekat Pebalap di MotoGP Hungaria

Sekitar 75% hingga 80% transaksi pembelian mobil di Indonesia bergantung pada pembiayaan dari perusahaan leasing atau multifinance.

Namun, kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada Mei lalu berpotensi menekan permintaan.

Kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan ancaman PHK membuat konsumen lebih berhati-hati mengambil cicilan jangka panjang. Perusahaan pembiayaan kini diperkirakan semakin selektif dalam menyalurkan kredit.

"Masyarakat yang punya uang memilih menahan pembelian, sementara yang belum punya, semakin tidak terjangkau," ujar Bebin Djuanda.

Pelemahan kinerja pembiayaan kendaraan sekunder sudah terlihat sejak periode Lebaran lalu, yang biasanya menjadi puncak konsumsi tahunan. Mobil bekas yang biasanya menjadi alternatif terjangkau kini kurang diminati.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pembiayaan kendaraan bekas turun 7,67% secara tahunan menjadi Rp 86,73 triliun pada Maret 2026.

Penurunan ini menegaskan hambatan pada sisi penjualan dan akses kredit.

>>> Kurs Dolar AS di BCA, BRI, Mandiri, BNI 8 Juni 2026 Melonjak

Di tingkat pedagang, banyak pelaku usaha mobil bekas memilih segera menjual stok kendaraan untuk menjaga likuiditas dan mengurangi beban biaya operasional.

Tantangan ke depan diperkirakan masih berlanjut.

Selain kebutuhan rutin rumah tangga, masyarakat harus menghadapi biaya masuk sekolah pada tahun ajaran baru, sehingga belum ada momentum pendorong pasar hingga akhir tahun.

Tekanan lebih besar dirasakan pada segmen kendaraan listrik sekunder. Kendaraan listrik masih menghadapi kekhawatiran konsumen terkait usia pakai dan kondisi baterai.

Kondisi tersebut membuat pasar mobil listrik bekas membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang.

Jika ekonomi dan daya beli belum membaik, pergerakan pasar mobil bekas akan tetap lambat sepanjang paruh kedua tahun ini.

>>> TSMC Beri Sinyal Kenaikan Harga Chip Akibat Kelangkaan Global

Sebagian konsumen kini mulai beralih memilih opsi menyewa kendaraan dibandingkan membeli. Pilihan ini dinilai lebih fleksibel, efisien, dan meminimalkan risiko penyusutan nilai aset.