Produsen semikonduktor kontrak terbesar dunia, TSMC, memberikan sinyal kuat akan menaikkan harga chip mereka.

Hal ini dipicu oleh kelangkaan chip kecerdasan buatan (AI) yang diproyeksikan masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.

>>> Ketahanan Ekonomi Nasional Hadapi Tantangan Global

CEO TSMC, C. C.

Wei, mengungkapkan dalam rapat pemegang saham tahunan bahwa perusahaannya belum mampu memenuhi lonjakan permintaan pelanggan. "Butuh waktu yang sangat lama sebelum kami bisa memenuhi permintaan pelanggan," ujar Wei.

Permintaan perangkat keras melonjak tajam seiring booming teknologi AI. Raksasa teknologi seperti Nvidia, Apple, AMD, dan Broadcom sangat bergantung pada fasilitas produksi TSMC.

Wei menjelaskan bahwa kendala utama tidak lagi hanya pada batas kapasitas wafer.

Kemacetan pasokan telah meluas ke ekosistem yang lebih luas, termasuk vendor peralatan, pasokan listrik, dan fasilitas pengemasan tingkat lanjut.

>>> Chandra Asri Pacific Lakukan Rebalancing Saham, Free Float Naik ke 25,7%

Selain kendala suplai, TSMC berencana melakukan penyesuaian tarif akibat pembengkakan biaya komponen. Wei mengisyaratkan kenaikan harga bagi pelanggan, meski nilainya tidak akan sedrastis produsen memori.

Dampak situasi ini mulai memicu efek domino berupa kelangkaan komponen memori seperti DRAM, NAND, dan HBM di pasar global.

Kondisi tersebut turut mendongkrak harga perangkat elektronik konsumen seperti kartu grafis dan laptop.

Untuk mengatasi krisis, TSMC telah mengucurkan investasi senilai USD 165 miliar di Amerika Serikat untuk membangun pabrik baru di Arizona.

Namun, Wei mengakui proses produksi lokal memerlukan waktu panjang karena terhambat izin lingkungan dan kelangkaan tenaga kerja lokal.

>>> Harga Pangan 8 Juni 2026: Cabai Merah Keriting Turun, Cabai Rawit Hijau Melonjak

Proyeksi kelangkaan jangka panjang ini didasarkan pada asumsi tren belanja AI terus tumbuh pesat. Jika ternyata hanya gelembung, permintaan pasar bisa merosot drastis dalam waktu singkat.