Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah dan pasar saham tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga banyak negara berkembang lainnya.

Hal ini disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal seperti tingginya suku bunga global, ketegangan geopolitik, volatilitas harga energi, dan perpindahan arus modal internasional.

>>> Chandra Asri Pacific Lakukan Rebalancing Saham, Free Float Naik ke 25,7%

"Indonesia telah berkali-kali menghadapi berbagai tantangan ekonomi global, mulai dari krisis keuangan Asia, krisis global 2008, pandemi Covid-19, hingga berbagai gejolak geopolitik dunia," ujar Ma'ruf dalam keterangan resmi, Senin (8/6/2026).

Menurut Ma'ruf, ketahanan ekonomi nasional tidak dapat diukur hanya dari pergerakan harian kurs maupun indeks saham.

Yang lebih penting adalah kemampuan menjaga aktivitas ekonomi riil, investasi, produksi, dan penciptaan lapangan kerja.

Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Himpunan Kawasan Industri (HKI) menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menarik investasi jangka panjang.

Hal itu ditopang oleh besarnya pasar domestik, bonus demografi, ketersediaan sumber daya alam, program hilirisasi yang terus berkembang, serta jaringan kawasan industri yang semakin matang.

Menurut Ma'ruf, faktor-faktor tersebut tetap menjadi daya tarik utama bagi investor yang menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan pasar strategis di kawasan Asia Tenggara.

Di tengah gejolak pasar keuangan, HKI menilai pemerintah perlu mempercepat reformasi struktural guna menjaga daya saing investasi.

>>> Harga Pangan 8 Juni 2026: Cabai Merah Keriting Turun, Cabai Rawit Hijau Melonjak

Fokus utama bukan pada kepanikan terhadap fluktuasi pasar, melainkan memastikan investasi dapat masuk dan terealisasi lebih cepat.

Beberapa aspek yang perlu dipercepat antara lain penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan, sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, kepastian tata ruang, penyediaan energi, serta peningkatan kualitas infrastruktur.