Gunung berapi Taftan di Iran selatan, yang selama ini dianggap telah mati selama 710.000 tahun, kini menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru.

Para ilmuwan menemukan bahwa tanah di dekat puncak gunung berapi tersebut naik 3,5 inci selama 10 bulan, dari Juli 2023 hingga Mei 2024.

>>> Cara Daftar SPayLater Shopee Terbaru 2026 untuk Pemula

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters mengungkapkan adanya peningkatan tekanan gas di bawah permukaan gunung berapi.

Gunung berapi Taftan terletak di dekat perbatasan Iran-Pakistan dan merupakan stratovolkano setinggi 12.927 kaki (3.940 meter).

Menurut Pablo González, ahli vulkanologi dari IPNA-CSIC Spanyol, temuan ini menunjukkan perlunya pemantauan yang lebih ketat terhadap gunung berapi tersebut.

Gunung berapi dianggap punah jika tidak meletus pada era Holosen yang dimulai 11.700 tahun lalu. González mengatakan Taftan mungkin lebih tepat disebut sebagai gunung berapi dorman.

"Entah bagaimana ia akan meletus di masa mendatang, entah dengan dahsyat atau lebih pelan," kata González kepada Live Science.

Meskipun demikian, ia menegaskan tidak ada alasan untuk khawatir akan letusan yang segera terjadi, tetapi pemantauan perlu ditingkatkan.

Saat ini, Taftan memiliki sistem hidrotermal aktif dan lubang-lubang penghasil sulfur yang disebut fumarol, namun belum ada catatan letusan dalam sejarah manusia.

>>> Konflik AS-Iran Picu Pelemahan Bursa Saham Timur Tengah

Pada 2020, mahasiswa doktoral Mohammadhossein Mohammadnia tidak melihat bukti aktivitas gunung berapi saat memeriksa citra satelit.

Namun pada 2023, warga melaporkan emisi gas dari gunung berapi yang tercium hingga kota Khash yang berjarak sekitar 50 kilometer.

Mohammadnia kembali memeriksa citra satelit dari misi Sentinel-1 milik ESA dan menemukan sedikit peningkatan permukaan tanah di dekat puncak.