Memantau feses balita dapat membantu orangtua mendeteksi gangguan penyerapan gizi atau malabsorpsi. Kondisi ini menyebabkan makanan bergizi yang dikonsumsi anak tidak terserap optimal oleh tubuh.

Dokter spesialis anak dr. Miza Afrizal Azwir, Sp. A, BMedSci, MKes, mengungkapkan bahwa satu dari lima anak di bawah empat tahun mengalami masalah pencernaan.

>>> Transmart Full Day Sale: Diskon Furnitur hingga 50% Plus Ekstra 20%

Hal ini disampaikan dalam acara Digestion Expert Lab di Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).

Banyak orangtua tidak khawatir saat anak makan dalam porsi besar. Padahal, nafsu makan yang tinggi belum menjamin penyerapan zat besi dan vitamin berjalan lancar.

Jika saluran pencernaan bermasalah, penyerapan nutrisi menjadi tidak maksimal. Akibatnya, berat badan anak tidak kunjung naik meskipun porsi makannya banyak.

Asupan yang dikonsumsi hanya 'numpang lewat' tanpa memberikan energi atau membentuk sel. Dampak jangka panjangnya adalah gangguan perkembangan kecerdasan kognitif anak.

Sistem Penyerapan Cairan di Usus Besar

Orangtua dapat mengamati tekstur kotoran anak untuk menilai kesehatan pencernaan. Proses pembentukan tinja terjadi di usus besar yang berfungsi menyerap cairan.

>>> Komisi XI DPR RI Buka Pendaftaran Anggota Badan Supervisi OJK

Jika usus besar mengalami peradangan atau kekurangan bakteri baik, pengelolaan cairan terganggu. Hal ini memengaruhi konsistensi kotoran anak.

Kecukupan asupan serat harian menjadi kunci agar usus besar bekerja optimal dalam memproses sisa makanan.

Mengenal Gejala Diare dan Konstipasi

Pemeriksaan konsistensi kotoran secara rutin dapat memberikan petunjuk tentang performa saluran pencernaan. Jika usus besar gagal menyerap cairan, kotoran menjadi cair atau diare.

Diare pada balita perlu penanganan cepat karena rentan dehidrasi. Sebaliknya, jika cairan diserap berlebihan, kotoran mengeras dan menyebabkan sembelit.

>>> DJP Kejar Pajak Rp 1,1 Triliun dari 32 Wajib Pajak Sektor Kelapa Sawit

Menurut dr. Miza, pemahaman tentang indikator kotoran membantu manajemen kesehatan harian balita. Orangtua harus menjadi 'dokter di rumah' dengan memantau kondisi pencernaan anak.