Telur omega-3 dikenal memiliki kadar asam lemak omega-3 yang lebih tinggi dibanding telur biasa. Namun, muncul anggapan bahwa mengolahnya dengan cara didadar dapat merusak nutrisi tersebut.

Kekhawatiran ini membuat sebagian orang lebih memilih merebus daripada menggoreng telur omega-3. Padahal, telur jenis ini sebenarnya fleksibel dan bisa diolah menjadi berbagai menu.

>>> BCA Ajak Agen Travel Asing Kunjungi Bukit Peramun Belitung

Hasil Penelitian tentang Kadar Omega-3

Sebuah studi dalam jurnal Food Science & Nutrition tahun 2015 menguji kadar asam lemak pada telur omega-3 melalui berbagai teknik memasak.

Hasilnya menunjukkan total asam lemak omega-3 pada telur mentah sebesar 15,3 persen.

Ketika direbus selama 4 menit, kadar omega-3 tercatat 16,9 persen. Pengolahan dengan diceplok menghasilkan 16,2 persen, dan orak-arik menyisakan 14,6 persen.

Pada perebusan lebih lama, kandungan gizi sedikit berkurang. Telur rebus 10 menit memiliki kadar 14,8 persen, dan 15 menit turun menjadi 13,7 persen.

>>> BRIN Identifikasi Bakteri Probiotik dari Madu Lebah Tanpa Sengat

Para ilmuwan menyimpulkan tidak ada perbedaan fatal pada kadar omega-3 setelah perebusan, penggorengan ceplok, atau orak-arik.

Penurunan signifikan terjadi pada olahan dengan pemanasan lebih lama, seperti custard yang menurunkan omega-3 dari 15,3 persen menjadi 11,1 persen.

Studi lain dari Journal of the Science of Food and Agriculture tahun 2022 mengonfirmasi bahwa suhu tinggi dan durasi lama berbanding lurus dengan penurunan omega-3, vitamin E, dan asam amino esensial.

Meski omega-3 sensitif terhadap panas, data ilmiah membuktikan metode memasak rumahan seperti mendadar, menceplok, atau merebus tidak melenyapkan nutrisi esensial.

>>> Pakar Kuliner Ungkap Cara Tepat Menyimpan Kentang agar Awet Segar

Telur omega-3 tidak harus selalu direbus, asalkan hindari panas ekstrem dalam waktu lama.