Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan tren pelemahan pada pekan pertama Juni 2026.

Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah di pasar spot menguat tipis 0,07% secara harian ke Rp 18.036 per dolar AS.

>>> Pengadilan Jepang Denda Dua Turis AS yang Menyusup ke Kandang Monyet Viral

Namun, secara mingguan rupiah tercatat melemah 0,86% dari posisi Rp 17.881 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026).

Bahkan, pada Kamis (4/6/2026) rupiah sempat menyentuh level terburuk sepanjang sejarah di Rp 18.049 per dolar AS.

Berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 18.039 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026), sama dengan penutupan sehari sebelumnya.

Dalam sepekan, rupiah melemah 0,87% dari Rp 17.883 per dolar AS pada 29 Mei 2026.

Sentimen Global dan Domestik

Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen domestik dan global.

Investor terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah, termasuk operasi militer Israel di Lebanon Selatan yang akhirnya diikuti gencatan senjata pada 3 Juni 2026.

Selain itu, Iran menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain, sementara pasukan AS melakukan serangan di Pulau Qeshm Iran yang dekat Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.

Dari AS, data PMI non-manufaktur menunjukkan harga yang dibayarkan bisnis jasa melonjak ke level tertinggi sejak 2022, didorong biaya produk minyak bumi dan komoditas lain.

Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Dari dalam negeri, pasar khawatir harga minyak mentah tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati 3%.