>>> Menhaj Sambut Tradisi Busana Jemaah Haji Sulawesi Selatan di Jeddah

Data perdagangan April 2026 menunjukkan surplus memudar menjadi hanya US$ 89,1 juta, anjlok dari US$ 3,32 miliar pada Maret 2026.

Biaya impor minyak yang melonjak tinggi melampaui ekspor menjadi penyebab utama.

Inflasi Mei meningkat menjadi 3,08%, di atas titik tengah target bank sentral akibat kenaikan harga barang impor.

Moody's Ratings memberikan peringkat pertama untuk PT Danantara Investment Management pada level Baa2 dengan outlook negatif.

Proyeksi Pekan Depan

Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa memperkirakan pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih dipengaruhi kuatnya dolar AS.

Pelaku pasar cenderung berhati-hati karena ketidakpastian global yang belum mereda.

Perhatian investor akan tertuju pada data ekonomi AS, terutama ketenagakerjaan dan inflasi, yang dapat memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.

Jika data AS solid, dolar berpotensi tetap menguat dan menekan mata uang negara berkembang.

Dari dalam negeri, pasar mencermati kondisi sektor eksternal setelah neraca perdagangan April 2026 turun drastis. Penurunan surplus menunjukkan pasokan devisa dari perdagangan luar negeri mulai berkurang.

Amru memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.950 – Rp 18.150 per dolar AS pada pekan depan.

>>> Argentina Kalahkan Honduras 2-0 Tanpa Messi di Uji Coba

Sementara Ibrahim memperkirakan kisaran Rp 17.950 – Rp 18.250 per dolar AS.