Fenomena ular yang masuk ke rumah warga kini dapat dijelaskan secara ilmiah. Pola pergerakan hewan melata ini sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim global.

Prof Mirza Dikari Kusrini, Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, menjelaskan bahwa ular adalah hewan eksotermik.

>>> Paramount Games Umumkan Game TMNT The Last Ronin, Platinum Games Jadi Pengembang

Suhu lingkungan sangat memengaruhi temperatur tubuh mereka.

Kenaikan suhu rata-rata akibat perubahan iklim mengubah pola aktivitas musiman dan harian ular. Cuaca ekstrem, banjir, dan perubahan curah hujan juga menurunkan kualitas habitat alami mereka.

Kondisi ini mendorong ular mencari tempat berlindung alternatif. Permukiman manusia menjadi pilihan karena menyediakan perlindungan dan sumber makanan.

Pergeseran Habitat Spesies Ular

Menurut Mirza, pergeseran habitat satwa sangat berpotensi terjadi di Indonesia. Fluktuasi suhu dan perubahan pola hujan mengubah distribusi sejumlah spesies ular.

>>> Arne Slot Dipecat Liverpool Usai Tudingan Arogan ke Pemain Bundesliga

Ular seperti kobra, welang, dan weling yang biasanya hidup di lanskap pertanian dan pinggiran permukiman kini bergeser ke area permukiman.

Makanan utama mereka, rodensia, juga banyak ditemukan di lingkungan manusia.

Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan rumah untuk menekan risiko konflik atau gigitan ular.

Langkah praktis meliputi pengendalian populasi tikus, menutup celah bangunan, dan tidak menangkap atau membunuh ular tanpa keahlian.

>>> PT Danantara Sumberdaya Indonesia Ditunjuk sebagai Eksportir Satu Pintu Komoditas SDA

"Strategi mitigasi yang ideal bukan menghilangkan ular dari lingkungan, melainkan mengurangi risiko interaksi berbahaya sambil mempertahankan fungsi ekologisnya," tutup Mirza.