Para investor asal Amerika Serikat tetap menunjukkan keyakinan tinggi terhadap prospek investasi sektor pariwisata di Bali.

Hal ini terjadi meskipun nilai tukar dolar AS telah menyentuh level Rp18 ribu.

>>> IHSG Pekan Depan Diprediksi Uji Level 5.500 Usai Anjlok 4,2%

General Manager The Westin Resort & Spa Ubud, Marriott International, Saraswati Subadia menjelaskan bahwa lonjakan mata uang asing ini justru memberikan dampak positif bagi industri perhotelan setempat.

"Dampak dolar itu buat kami di hospitality industry, di hotel itu justru membaik ya sebetulnya.

Jadi bisnis yang saat ini terjadi sudah kembali, belum 100% normal, tapi sudah naik ya angka 10%," ujarnya dalam acara Executive Briefing yang diadakan oleh US-ASEAN Business Council (USABC) di Kuta, Badung.

Operasional hotel tidak terganggu secara signifikan karena pemenuhan bahan baku sebagian besar memanfaatkan pemasok lokal.

Namun, pihak manajemen hotel kini mulai mengalihkan perhatian pada isu ketersediaan energi sebagai risiko operasional yang harus diantisipasi.

"Banyak kita harus perhatikan adalah dari sisi energi. Nah, itu yang memang saat ini kita harus lebih memperhatikan, pasokannya dari mana," ungkap Saraswati Subadia.

>>> Pedro Acosta Tercepat di Sesi Practice MotoGP Hongaria 2026

Ia mencontohkan kesiapan pasokan listrik, stok genset, hingga ketersediaan bahan bakar minyak seperti solar sebagai fokus utama saat ini.

"Dari sisi kompetitif tentunya Bali, Pulau Bali itu masih sangat seksi untuk menjadi destinasi kompetisi khususnya di bidang pariwisata," tutup Saraswati Subadia.

Sementara itu, perwakilan USABC, Angga Antagia menegaskan bahwa dunia usaha selalu mencari celah positif di tengah tantangan ekonomi global dan hambatan rantai pasok.

"Jadi in spite dolar yang yang sedang meroket, kemudian juga mungkin supply terpengaruh secara global, tapi kami meyakini bahwa setiap sektor industri di member USABC selalu menemukan jalan karena Indonesia tidak bisa ditinggalkan begitu aja gitu," jelas Angga Antagia.

Banyak perusahaan anggota USABC bahkan telah menanamkan modal di Indonesia selama puluhan hingga lebih dari 100 tahun. "Jadi, ini tidak serta merta membuat kemudian kita akan mundur tidak.

>>> Manchester United Resmi Perpanjang Kontrak Tom Heaton hingga 2027

Tapi mencari peluang apa yang bisa dikembangkan, apa yang bisa dilihat sisi positifnya, dan menavigasi resikonya biar tidak berdampak lebih luas lagi," imbuh Angga Antagia.