>>> APVI Tolak Aturan Kemasan Polos karena Ancam Keberlanjutan UMKM

Yang udah cair Rp 30 triliun, yang akan masuk Rp 40 triliun," imbuh Purbaya.

Untuk gambaran ekonomi menyeluruh, Kemenkeu mengandalkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang didanai anggaran besar demi keakuratan survei nasional.

"Satu tempat belum tentu menggambarkan semuanya. Makanya kita punya BPS untuk menangkap data-data seperti itu.

Sehingga melihat pertumbuhan ekonomi secara agregat atau secara lebih akurat. Kalau enggak ngapain saya ngeluarin berapa setiap tahun, Rp 7 triliun?

Lebih ya untuk survey itu kita keluarkan Rp 7 triliun kemarin untuk sensus sama melengkapi DTSEN," terang Purbaya.

Ia juga membagikan pengalaman saat studi di Amerika Serikat, ketika profesornya mengkritik metodologi pengumpulan data yang tidak boleh mengambil kesimpulan sepihak.

"Saya pernah dikritik sama para profesor saya ketika melakukan hal seperti itu. Saya buat modal ekonometri, di Amerika ya.

Terus saya run. Terus hasilnya.

Ini dipengaruhi oleh ABCD. Jadi ini pasti betul Pak.

Dia billing, kamu melakukan fishing expedition. Maksudnya apa?

Kamu bawa kapal ke tempat, kamu lempar jaring. Terus di situ dapat ikan kan?

Ada ikan ABCD. Kamu simpulkan ikan di laut adalah ABCD.

>>> AFI: Koperasi Merah Putih Sulit Saingi Waralaba Jika Model Bisnis Lemah

Padahal laut kan luas. Itu yang harus kita mencegah," tutup Purbaya.