Selama ini, pengujian pada bagian tersebut masih sangat manual dan dapat memakan waktu berminggu-minggu.

Target awal Wolvesight saat ini adalah membangun kepercayaan (trust) dan edukasi pasar melalui beberapa perusahaan yang menjadi early adopters.

“Wolvesight secara jangka panjang juga akan fokus pada edukasi untuk reshaping bisnis penetration testing.

Jika dulu pentest sangat bergantung pada keahlian orang secara manual, ke depan kita ingin mengombinasikan keduanya (AI dan manusia) agar prosesnya jauh lebih efisien dan akurat,” kata Thomas.

Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan keamanan siber kini menjadi fondasi utama yang harus diperkuat.

Hal ini agar transformasi digital Indonesia dapat berjalan secara berkelanjutan, aman, dan inklusif sesuai visi Presiden Prabowo Subianto pada World Governments Summit 2025.

Teuku menilai Wolvesight menjadi bukti kemampuan Indonesia menghadirkan solusi digital inovatif yang kompetitif.

Berbeda dari vulnerability scanner konvensional yang mendeteksi celah teknis seperti SQL Injection atau Cross-Site Scripting (XSS), Wolvesight dirancang khusus menguji keamanan alur bisnis.

Celah ini rawan disalahgunakan pelaku untuk memanipulasi nominal transaksi atau melakukan bypass persetujuan berjenjang.

>>> IHSG Jatuh ke Level Terendah Sejak 2020 Akibat Tekanan Saham Big Banks

Melalui pendekatan multi-agent AI, platform ini bekerja otonom menyusun skenario serangan dan simulasi eksploitasi secara terkontrol, dengan validasi akhir yang tetap dikawal oleh senior pentester berpengalaman di sektor perbankan.