Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada akhir pekan ini, Jumat (5/6/2026).

Berdasarkan data RTI Infokom, mata uang Garuda mencatatkan penguatan sebesar 0,19% menuju level Rp18.012 per dolar AS.

>>> Masa Depan Kevin de Bruyne di Napoli Makin Tidak Pasti

Meskipun menguat pada penutupan perdagangan hari ini, posisi rupiah telah merosot sebesar 8,01% sejak awal tahun jika dibandingkan dengan dolar AS.

Pergerakan Mata Uang Asia

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang lainnya terpantau bervariasi terhadap dolar AS.

Yuan China menguat 0,06%, dolar Hong Kong naik 0,01%, dan yen Jepang mengalami kenaikan sebesar 0,06%.

Sebaliknya, won Korea melemah 0,52%, baht Thailand turun 0,06%, dan dolar Taiwan merosot 0,02%.

Sementara itu, dolar Singapura berhasil menguat 0,08% terhadap mata uang utama global tersebut pada sore ini.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa sentimen pasar saat ini dipengaruhi oleh geopolitik Timur Tengah.

Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menolak kesepakatan gencatan senjata dengan Israel yang dimediasi oleh AS pada hari Kamis.

Di sisi lain, Iran menetapkan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat mutlak untuk kesepakatan perdamaian dengan Washington.

Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa ada kemajuan dalam negosiasi dan Lebanon layak mendapatkan kedamaian.

>>> Penerimaan Pajak Indonesia Tembus Rp 834,4 Triliun per Mei 2026

Selain ketegangan geopolitik, fokus pasar tertuju pada Laporan Ketenagakerjaan AS.

Data Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Mei diproyeksikan meningkat 85.000 pekerjaan, dengan Tingkat Pengangguran diperkirakan bertahan di posisi 4,3%.

Kondisi pasar tenaga kerja AS yang melemah berpotensi menekan dolar AS.