Industri perbankan nasional mencatat pertumbuhan kredit sebesar 9,98 persen secara tahunan pada April 2026, mencapai Rp8.755 triliun.

Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen.

>>> Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat di Tengah Pelemahan Rupiah

Bank-bank milik negara (BUMN) menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan kredit tertinggi, yakni 14,35 persen year-on-year.

Hal ini disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner OJK, Jumat (5/6/2026).

"Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi yaitu sebesar 14,35% year on year," ujar Dian.

Kredit Investasi dan Korporasi Pimpin Pertumbuhan

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi melesat 19,48 persen secara tahunan, menjadi penopang utama pertumbuhan.

Sementara itu, debitur korporasi membukukan pertumbuhan tertinggi sebesar 15,51 persen.

Penyaluran kredit ke segmen UMKM juga membaik dengan pertumbuhan positif 0,16 persen secara tahunan, naik tipis dari 0,12 persen pada Maret 2026.

>>> OJK Panggil Pemegang Saham KoinWorks Terkait Dugaan Korupsi Kredit

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan naik 11,39 persen secara tahunan menjadi Rp10.077 triliun.

Kenaikan DPK didorong oleh giro yang tumbuh 16,99 persen, deposito 8,65 persen, dan tabungan 9 persen.

Likuiditas industri perbankan tetap kuat, dengan rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) sebesar 111,13 persen dan alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) sebesar 25,39 persen.

Kedua rasio tersebut berada di atas batas minimal masing-masing 50 persen dan 10 persen.

Kualitas aset perbankan juga terjaga aman, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross di level 2,17 persen dan NPL net 0,84 persen.

>>> OJK Catat Aset Industri Asuransi Tembus Rp1.202 Triliun per April 2026

Loan at risk (LAR) berhasil ditekan menjadi 8,82 persen, turun dari 8,94 persen pada bulan sebelumnya.