Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (4/6/2026) untuk mengajak pertemuan langsung demi menyudahi perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

Langkah diplomatik ini diambil di tengah situasi perang yang berkepanjangan dan berdampak luas pada kedua negara.

>>> FIFA Larang Vuvuzela dan Alat Bising di Piala Dunia 2026

Kantor Presiden Ukraina mengonfirmasi bahwa dokumen tersebut juga telah diteruskan ke beberapa negara mitra, termasuk Amerika Serikat.

Zelensky menilai kondisi domestik Rusia saat ini sudah jenuh dengan konflik akibat gempuran pesawat nirawak serta lonjakan inflasi.

Selain itu, pemimpin Ukraina ini menyoroti fokus Amerika Serikat yang dinilai sedang teralihkan oleh dinamika politik di kawasan Iran.

"Adalah sebuah kesalahan jika hanya menunggu sampai perang di Eropa kembali menjadi pusat perhatian Amerika Serikat," tulis Zelensky.

Ukraina menghendaki adanya penghentian kontak senjata sebagai modal awal sebelum kedua belah pihak duduk di meja perundingan.

Pihak Kyiv juga melihat Washington memiliki kapasitas mumpuni untuk memantau situasi di garis depan.

"Garis depan adalah titik awal dari mana diplomasi harus dimulai," ujarnya.

Zelensky mengusulkan agar tanggal pertemuan segera ditetapkan dan membuka peluang bagi negara netral untuk menjadi fasilitator.

Swiss, Turki, dan sejumlah negara Arab disebut sebagai lokasi potensial yang dinilai ideal bagi jalannya negosiasi.

"Ukraina mendukung gencatan senjata penuh selama masa perundingan berlangsung. Ini adalah praktik yang lazim dilakukan," kata Zelensky.

Desakan agar pemimpin Kremlin mengambil keputusan besar demi menghentikan jatuhnya korban jiwa turut disampaikan secara lugas.

Zelensky memberikan pilihan tegas terkait kelanjutan eksistensi negaranya jika tawaran perdamaian ini diabaikan.