>>> AAJI Catat Klaim Asuransi Kesehatan Meningkat Jadi Rp6,72 Triliun

Menurutnya, investor tradisional yang peduli dengan arus kas menemukan bahwa HYPE merupakan konsep yang jauh lebih mudah dipahami dan dipertimbangkan sebagai investasi jangka panjang.

Perubahan preferensi ini dipicu oleh penurunan performa Bitcoin yang jatuh hampir 50 persen dari rekor tertinggi Oktober lalu ke kisaran US$65.000.

Selain itu, ribuan altcoin spekulatif di pasar juga mengalami kehancuran.

Kepala divisi makro di 21Shares, Stephen Coltman, menilai dinamika pasar kripto saat ini menyerupai pola perkembangan perusahaan internet pasca-krisis dotcom global.

Menurutnya, seleksi alam di pasar pada akhirnya akan memisahkan bisnis yang gagal dengan para pemenang segmen yang memiliki fundamental kuat.

Kepala riset BRN, Timothy Misir, menambahkan bahwa peluncuran produk ETF telah membuka akses bagi kategori pembeli tradisional baru untuk bertaruh pada pertumbuhan Hyperliquid tanpa perlu mengelola dompet digital.

Namun, data DefiLlama memicu kekhawatiran karena volume perdagangan kripto murni di Hyperliquid mulai melemah.

Platform kini sangat bergantung pada ekspansi aset dunia nyata (RWA) dan pasar prediksi yang memiliki risiko regulasi lebih tinggi.

Kepala riset di Bitwise, Ryan Rasmussen, menegaskan bahwa posisi Hyperliquid saat ini merupakan representasi dari kemunculan token kripto generasi baru yang berbasis nilai ekonomi riil.

>>> DPR Sahkan Revisi UU PPSK, Evaluasi BI dan OJK Diperkuat

Ia mengatakan bahwa kripto mulai membedakan dirinya berdasarkan ekonomi, bukan hanya narasi.