Laba inti PGAS pada akhir tahun ini diperkirakan tumbuh sekitar 3% secara tahunan (YoY) mencapai US$ 332 juta.

Bahana Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham PGAS dengan target harga Rp 2.300 per saham.

Faktor pendorong lainnya adalah operasional pipa gas Cisem II sejak April 2026 yang memperluas pasokan ke Jawa Barat.

"Kami tetap merekomendasikan PGAS karena cerita pertumbuhannya masih solid," tulis Bahana Sekuritas.

Prospek Dividen dan Kekuatan Kas

PGAS juga diproyeksikan mampu menjaga rasio pembayaran dividen (payout ratio) yang tinggi karena didukung posisi kas yang kuat.

Rasio pembayaran dividen diperkirakan berada pada kisaran 80% hingga 95% untuk tahun 2026.

Potensi dividend yield dari rasio tersebut diperkirakan menyentuh angka 11%, dengan catatan tidak terjadi penurunan nilai aset atau impairment.

Riset dari UBS Global Research turut memperkuat pandangan positif terhadap dominasi infrastruktur gas nasional milik PGAS.

PGAS menguasai lebih dari 10.000 kilometer jaringan pipa gas hilir, setara dengan 96% dari keseluruhan jaringan nasional.

Emiten ini juga mengelola dua fasilitas Floating Storage Regasification Unit (FSRU) di Lampung dan Jawa Barat, fasilitas regasifikasi di Arun, serta kepemilikan 12 blok migas di Indonesia dan Amerika Serikat.

Analisis keuangan UBS menunjukkan posisi kas bersih (net cash) PGAS terus menanjak, dari perkiraan US$ 594 juta pada 2025 menjadi US$ 1,09 miliar pada 2026, dan diproyeksikan mencapai US$ 1,41 miliar pada 2027.

>>> Kementerian ESDM Belum Bahas Penyesuaian Tarif Listrik Kuartal III-2026

Pada RUPS terakhir, perseroan menetapkan rasio pembayaran dividen sebesar 80%.