Pemerintah Berpotensi Naikkan Porsi DMO Batu Bara Menjadi 30 Persen
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berpotensi menaikkan persentase Domestic Market Obligation (DMO) batu bara menjadi lebih dari 30 persen pada tahun 2026.
Kebijakan ini diambil setelah pemerintah memangkas target produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, dari realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 790 juta ton.
>>> Jepang Usulkan Pembangunan Kembali Reaktor Nuklir untuk Pasokan Listrik
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mencatat bahwa hingga saat ini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara masih memasok 57 persen sumber listrik di Indonesia.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menekankan bahwa DMO berkaitan dengan ketersediaan listrik, keterjangkauan, dan keamanan energi nasional.
Ia menjelaskan bahwa kuota wajib pasok domestik terus mengalami peningkatan persentase sejak pertama kali diterapkan pada tahun 2009.
Dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas DMO mencapai sekitar 25 persen dari produksi. APBI menyatakan akan mematuhi peraturan yang berlaku.
Asosiasi juga menyoroti efektivitas skema harga DMO yang dipatok US$70 per ton untuk kebutuhan pembangkit listrik.
Gita Mahyarani mengungkapkan bahwa lingkungan operasional saat ini sangat berbeda dari tahun 2018, dengan biaya produksi, logistik, bahan bakar, dan pembiayaan kontraktual yang meningkat.
>>> Dolar AS Sentuh Rp 18.000 pada Pembukaan Perdagangan 5 Juni 2026
Lonjakan konsumsi dalam negeri tercatat tumbuh signifikan hingga 85 persen dalam empat tahun terakhir, dari 133 juta ton menjadi kisaran 240 hingga 250 juta ton.
Para pelaku usaha memerlukan kepastian regulasi mengenai kuota operasi dan implementasi kebijakan harga agar dapat mematuhinya secara optimal.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan bahwa penyesuaian porsi DMO dari 25 persen menjadi 30 persen merupakan dampak otomatis dari penurunan proyeksi produksi nasional.
Ia memaparkan bahwa porsi alokasi domestik sebelumnya berkisar antara 23 hingga 24 persen, namun penurunan total produksi memaksa persentase tersebut naik.
Pemerintah melakukan evaluasi ketat untuk mengontrol laju eksploitasi alam dan memastikan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri secara berkelanjutan.
>>> IHSG Dibuka Menguat 6,7 Poin di Tengah Pelemahan Bursa Asia
Yuliot Tanjung menegaskan bahwa sumber daya yang dimiliki harus berkelanjutan dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Update Terbaru
Rahasia Umur Baterai Mobil Listrik dan Hybrid Bisa Tembus 12 Tahun
Jumat / 05-06-2026, 10:32 WIB
Saham BBCA dan BBRI Anjlok ke Level Terendah Lima Tahun
Jumat / 05-06-2026, 10:32 WIB
AS Akui Ancaman Drone Jadi Risiko Keamanan Terbesar Jelang Piala Dunia 2026
Jumat / 05-06-2026, 10:31 WIB
Daihatsu Jual 12.531 Unit Mobil pada Mei 2026, Tumbuh 25%
Jumat / 05-06-2026, 10:28 WIB
Cara Klaim Kode Redeem ML 6 Mei 2026 untuk Dapat Border ALLSTAR
Jumat / 05-06-2026, 10:28 WIB
Rawat Sistem Pendingin Jadi Kunci Utama Usia Baterai Mobil Listrik
Jumat / 05-06-2026, 10:28 WIB
Produsen Panel Surya China Percepat Ekspansi ke Bisnis Baterai
Jumat / 05-06-2026, 10:28 WIB
Clara Shinta Bantah Rumor Lepas Hijab dan Tudingan Clubbing
Jumat / 05-06-2026, 10:27 WIB
Jadwal Kapal PELNI KM Pangrango Maluku 5-28 Juni 2026: Rute Ambon hingga Saumlaki
Jumat / 05-06-2026, 10:27 WIB
Rudi Garcia Cadangkan Romelu Lukaku di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Jumat / 05-06-2026, 10:26 WIB
Ini Alasan Piala Dunia FIFA Hanya Digelar Empat Tahun Sekali
Jumat / 05-06-2026, 10:25 WIB
Apa Perbedaan Telephoto dan Optical Zoom pada Spesifikasi Kamera HP?
Jumat / 05-06-2026, 10:25 WIB
Lonjakan Harga DDR5 Dorong Perakit PC Kembali ke Platform DDR4
Jumat / 05-06-2026, 10:24 WIB
Wamenperin Resmi Buka Pameran Megabuild, Keramika, dan Megaproperty 2026
Jumat / 05-06-2026, 10:24 WIB






