Minimnya Eksplorasi dan Tantangan Sumur Rakyat

Di luar berbagai upaya jangka pendek yang sedang dilakukan, Ekonom Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak menilai, akar persoalan produksi minyak Indonesia sebenarnya berasal dari minimnya aktivitas eksplorasi selama lebih dari 1 dekade terakhir.

Dia berpendapat, menutup gap produksi sekitar 33.800 bopd pada kondisi saat ini bukan perkara mudah.

Menurut Ishak, Indonesia menghadapi penurunan produksi alamiah sekitar 5% per tahun karena masih mengandalkan lapangan-lapangan tua.

SKK Migas memang telah menyiapkan sejumlah program seperti reaktivasi 4.500 sumur idle, percepatan legalisasi sumur masyarakat, hingga implementasi enhanced oil recovery (EOR) di Blok Rokan dan Lapangan Banyu Urip.

Namun, hasil dari program-program tersebut tidak dapat dirasakan secara instan. "Kalaupun dieksekusi tahun ini, hasilnya baru akan terlihat dalam satu hingga 3 tahun mendatang," kata Ishak.

Terkait optimalisasi sumur rakyat, Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna mengingatkan agar upaya tersebut tetap dilakukan secara hati-hati dan tidak mengorbankan aspek keselamatan maupun tata kelola.

Dia mengatakan, pemerintah perlu berhati-hati dalam menggenjot produksi dari sumur rakyat mengingat sejak awal kebijakan tersebut dijanjikan akan dijalankan secara prudent.

Putra mengingatkan, pemerintah juga perlu memastikan target jangka pendek tidak justru mengorbankan keberlanjutan produksi di masa depan. "Produksi tahun lalu cukup anomali dan bisa memenuhi target.

>>> Pemerintah Pantau Pelemahan Rupiah dan IHSG, Fundamental Ekonomi Dinilai Kuat

Perlu dipastikan jangan sampai demi mengejar target tersebut justru mempersulit produksi di tahun-tahun berikutnya," ujarnya.