>>> Kejaksaan Agung Usut Dugaan Mark Up Motor Listrik Emmo JVH Max

Beban Lapangan Tua dan Minimnya Eksplorasi

Tantangan terbesar pemerintah sejatinya bukan hanya menutup selisih produksi tahun ini, melainkan menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar lapangan minyak utama Indonesia telah memasuki fase penurunan alamiah atau declining phase.

Praktisi migas sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo menilai target 610.000 bopd sulit dicapai dalam waktu singkat.

Menurutnya, mayoritas lapangan minyak nasional kini tergolong mature field dengan karakteristik gas-oil ratio (GOR) yang tinggi dan kandungan air (water cut) yang terus meningkat.

"Sulit untuk mencapai target 610.000 bopd dalam 7 bulan ke depan sampai akhir tahun.

Banyak lapangan kita memang sudah masuk declining phase, sudah mature field dengan high GOR dan high water cut," ujar Hadi kepada Bisnis, Kamis (4/6/2026).

Ketergantungan terhadap Blok Rokan dan Blok Cepu juga membuat produksi nasional sangat sensitif terhadap gangguan operasional maupun penurunan alamiah produksi dari kedua wilayah tersebut.

Padahal, kedua blok tersebut selama bertahun-tahun menjadi penyumbang terbesar produksi minyak nasional.

Hadi berpendapat, untuk mengembalikan tren produksi ke fase pertumbuhan dibutuhkan penemuan lapangan-lapangan baru.

Setidaknya, Indonesia membutuhkan sejumlah temuan berukuran menengah atau beberapa lapangan setara Banyu Urip yang mampu memberikan tambahan produksi signifikan.

Hadi menambahkan, kondisi produksi saat ini merupakan konsekuensi dari rendahnya investasi eksplorasi pada 1 dekade sebelumnya.

Porsi eksplorasi dalam total investasi hulu migas selama bertahun-tahun relatif kecil sehingga penemuan cadangan baru tidak mampu mengimbangi laju penurunan produksi dari lapangan-lapangan yang sudah menua.

Akibatnya, ketika pemerintah berupaya mengejar target lifting saat ini, ruang geraknya menjadi sangat terbatas.