Kondisi tersebut menggambarkan betapa rentannya produksi migas Indonesia yang masih sangat bergantung pada sejumlah lapangan raksasa berusia tua.

Strategi Mengejar Produksi Tambahan

Di tengah tantangan tersebut, SKK Migas menyiapkan sejumlah strategi untuk mengejar target produksi minyak tahun ini.

Salah satunya berasal dari pengeboran sumur-sumur pengembangan di sekitar lapangan yang ada, perluasan area pengeboran (step out), serta pengembangan struktur baru di Zona 4, Zona 7, dan Pertamina Hulu Rokan.

Hingga Mei 2026, program tersebut telah menghasilkan tambahan produksi awal sekitar 10.000 barel minyak per hari.

Selain itu, SKK Migas menjalankan program filling the gap (FTG) dan triple 100 yang ditargetkan mampu menyumbang tambahan produksi sekitar 5.000 bopd.

Namun, realisasinya masih jauh dari target.

Hingga Mei, tambahan produksi yang berhasil diperoleh baru sekitar 199 bopd sehingga masih tersedia potensi sekitar 4.800 bopd yang diharapkan bisa terealisasi pada semester II/2026.

Program lain yang tengah berjalan mencakup perbaikan sumur existing melalui workover dan well service. Dari target pekerjaan pada 106 sumur, baru 28 sumur yang selesai dikerjakan.

SKK Migas juga mengandalkan pengeboran 52 sumur pengembangan, program multi-stage fracturing pada 17 sumur, serta pengeboran sumur multilateral yang akan dimulai pada Juni 2026.

Selain mengoptimalkan lapangan existing, pemerintah juga mulai memanfaatkan sumur minyak masyarakat berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025.

Produksi dari sumur rakyat tercatat mencapai sekitar 1.500 bopd pada Mei 2026 dan diperkirakan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Secara teori, seluruh program tersebut dapat memberikan tambahan produksi beberapa ribu barel per hari.

Namun efektivitasnya akan sangat bergantung pada keberhasilan eksekusi di lapangan serta kecepatan sumur-sumur baru memasuki fase produksi.