Keluhan serupa disampaikan Ghina Nanda (32 tahun), warga Depok. Menurutnya, kemampuan membeli rumah semakin tergerus oleh tingginya harga properti.

"Dalam ekonomi sekarang, kayaknya punya rumah masih jadi impian. Kalau pendapatan masih berpatokan pada UMR, agak sesak buat generasi sekarang beli rumah," ujarnya.

Ghina menambahkan, program rumah subsidi kerap berlokasi jauh dari pusat kegiatan ekonomi. "Rumah subsidi pro rakyat sekarang sudah jauh.

Masa saya cari rumah subsidi sudah ke arah sana, menuju Bandung.

Kalau tempat tinggal jauh dari tempat kerja, ongkos bertambah, capek juga karena tua di jalan," kata ia yang bekerja di Jakarta.

Ia mencontohkan harga rumah di Depok yang terus meningkat. Rumah di dalam gang kini banyak ditawarkan mendekati Rp1 miliar.

Sementara itu, Doni (33 tahun), warga Jakarta Utara, menilai memiliki rumah tetap menjadi cita-cita. Namun, harga rumah yang terus naik tidak sejalan dengan kemampuan finansial pekerja.

"Susah karena kondisi UMR saat ini minim. UMR itu diperuntukkan untuk yang bujang, bukan untuk yang sudah berkeluarga," ujarnya.

Bagi banyak milenial, tantangan terbesar bukan lagi soal keinginan memiliki rumah. Mereka harus mengejar harga properti yang melambung di tengah biaya hidup yang tinggi.

>>> Pencalonan Presiden Real Madrid 2026: Riquelme Janjikan Haaland dan Rodri

Akibatnya, semakin banyak generasi muda yang memilih mengontrak, tinggal bersama keluarga lebih lama, atau mencari hunian di wilayah yang semakin jauh dari pusat kota.