Memiliki rumah masih menjadi impian besar bagi generasi milenial di Indonesia. Namun, kenaikan harga properti dan tingginya bunga kredit membuat impian itu semakin sulit diwujudkan.

Fenomena ini sejalan dengan survei terbaru di Amerika Serikat.

>>> Komisi X DPR Desak Pemerintah Sejahterakan Dosen dan Perbaiki Infrastruktur PTS 2026

Survei Home Affordability Survey 2025 dari Bankrate menemukan satu dari enam calon pembeli rumah gagal menemukan hunian yang terjangkau dalam periode 2020-2025.

Di Indonesia, persoalan keterjangkauan rumah juga menjadi tantangan besar.

Laporan The Economist menempatkan Indonesia sebagai negara dengan harga hunian paling tidak terjangkau keenam di dunia, setelah Filipina, Sri Lanka, Thailand, India, dan Korea Selatan.

Kisah Milenial: Antara Impian dan Realitas

Abel Anita (33 tahun), warga Jakarta, mengaku rumah tetap menjadi impian. Namun, kondisi ekonomi saat ini membuat banyak orang berpikir ulang sebelum membeli.

"Kalau untuk menyerah mungkin enggak ya.

Cuma melihat kondisi ekonomi sekarang yang makin ke sini makin parah, jadi kebanyakan orang memilih kontrak dulu sambil nabung atau investasi," ujarnya.

Abel menilai pendapatan Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan menjadi batas minimal untuk mulai memikirkan pembelian rumah.

Namun, kebutuhan hidup sehari-hari membuat upaya mengumpulkan uang muka tetap berat.

Ia juga menyoroti beban KPR yang memberatkan, terutama bunga floating yang naik setiap tahun. "Rumah di Jakarta masih mahal walaupun KPR.

Sekitar Rp500 juta, tapi bunganya floating yang naik setiap tahun. Itu yang bikin kebanyakan orang jual rumah karena enggak kuat cicilannya," kata dia.

>>> 30+ SMA Terbaik di Jakarta untuk PPDB 2026, Lengkap dengan Nilai UTBK