Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menembus level psikologis Rp17.900. Kondisi ini menjadi sentimen negatif yang langsung direspons oleh pasar saham.

Selain faktor nilai tukar, koreksi IHSG juga dipicu oleh aksi ambil untung pada emiten raksasa.

Saham-saham konglomerasi yang sebelumnya menguat tajam selama dua hari terakhir kini mulai berbalik turun.

Banyak dari emiten besar tersebut bahkan sempat menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) pada hari-hari sebelumnya. Penurunan drastis saham-saham ini memberikan beban berat pada pergerakan indeks secara keseluruhan.

Secara teknikal, Herditya menilai bahwa IHSG saat ini masih berada dalam fase penurunan atau downtrend. Belum ada indikasi kuat yang menunjukkan bahwa pasar akan segera berbalik arah.

>>> Sopir Truk Tabrak Lari Dua Bersaudara di Ngawi Ditangkap, Motifnya Mengejutkan

Ia menekankan bahwa tanda-tanda pembalikan arah yang valid masih belum terlihat pada grafik perdagangan. Situasi ini menuntut para pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.