Keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market (EM) menjadi sentimen positif bagi pasar modal domestik.

Langkah ini meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi arus keluar dana asing (capital outflow) hingga sekitar Rp80 triliun jika Indonesia turun ke kategori Frontier Market.

>>> Trump Telepon Perdana Menteri Inggris yang Baru, Janji Bantuan AS

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin mengatakan keputusan MSCI berhasil menghindarkan pasar saham domestik dari tekanan yang lebih besar.

Meski demikian, Indonesia masih akan berada dalam masa pemantauan (watchlist) hingga November 2026.

"Dengan tetap dipertahankannya status Emerging Market, risiko keluarnya dana dalam jumlah besar tersebut berhasil dihindari.

Meski demikian, upaya untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar saham Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah," ujar Wilbert dalam keterangan resmi, Selasa (21/7/2026).

Bobot Indonesia di MSCI Terus Menurun

Meski statusnya tidak berubah, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets terus menurun.

Pada Juni 2026, porsi Indonesia tercatat sekitar 0,4%, turun dari 1,2% pada akhir 2025.

>>> Komentator Final Piala Dunia 2026 Viral Bongkar Sisi Gelap Turnamen

Menurut Wilbert, penyusutan bobot tersebut dipengaruhi oleh menurunnya kepemilikan investor asing serta derasnya arus dana keluar dari pasar saham Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menjelaskan, arus keluar dana asing sejauh ini masih didominasi investor yang mengikuti komposisi indeks (index-linked funds).

Sementara itu, investor jangka panjang dinilai masih mempertahankan investasinya, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

Di sisi lain, peluang kembalinya aliran modal asing masih terbuka.

Hal itu didukung valuasi saham Indonesia yang dinilai relatif murah dibandingkan rata-rata dalam satu dekade terakhir, serta peluang MSCI kembali membuka inklusi indeks pada masa mendatang.

Menurut Wilbert, perhatian investor pada semester II-2026 akan lebih banyak tertuju pada kemampuan Indonesia menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan daya saing pasar modal, serta mendorong pertumbuhan laba emiten.

>>> DPR Minta Impor Garam Dibatasi, Industri Diminta Serap Produksi Lokal

"Kombinasi faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pasar saham Indonesia pada semester kedua 2026," katanya.