Perusahaan pembiayaan atau multifinance mulai bersikap lebih waspada dalam merencanakan penerbitan surat utang di sisa tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap dinamika ekonomi global dan domestik.

Data terbaru dari lembaga pemeringkat Pefindo menunjukkan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke posisi 5,25% menjadi faktor utama.

>>> Smart TV vs Google TV: Perbedaan dan Keunggulan yang Perlu Diketahui

Selain itu, kenaikan tingkat imbal hasil atau yield obligasi juga memengaruhi keputusan strategis perusahaan.

Kenaikan Bunga dan Dampaknya pada Penerbitan Surat Utang

Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst di Pefindo, menjelaskan bahwa emiten multifinance cenderung masuk pasar modal hanya jika memiliki kebutuhan dana yang terukur.

Prioritas utama mereka adalah refinancing surat utang yang akan jatuh tempo.

Langkah ini dinilai lebih aman dibandingkan ekspansi besar-besaran di tengah ketidakpastian pasar bunga. Pertumbuhan piutang pembiayaan yang rendah turut mempengaruhi keputusan ini.

Hingga Maret 2026, pertumbuhan piutang hanya mencapai 0,61% secara tahunan (YoY). Ketika ekspansi melambat, kebutuhan modal kerja juga terbatas, sehingga dorongan mencari pendanaan baru tidak sebesar sebelumnya.

Dalam kondisi yield tinggi, perusahaan biasanya menunda penerbitan surat utang yang tidak mendesak. Efisiensi biaya dana menjadi pertimbangan krusial agar beban bunga tidak menekan kinerja keuangan.

Ahmad memprediksi perusahaan akan lebih selektif dalam memilih tenor, timing, dan besaran nilai emisi sebelum merilis obligasi.

Pilihan Pendanaan: Bank vs Pasar Modal

Kenaikan suku bunga acuan juga membuat biaya pinjaman perbankan semakin mahal.

Dalam situasi ini, pasar surat utang terkadang menawarkan alternatif yang lebih menarik, terutama bagi emiten dengan peringkat kredit sangat baik seperti AAA.