Namun, investor domestik juga waspada terhadap lesunya bisnis pembiayaan.

Mereka cenderung selektif dan hanya menyerap surat utang dari emiten berkualitas tinggi dengan rekam jejak akses pasar yang konsisten dan peringkat stabil.

>>> Paper Rex Hentikan Rekor 14 Kemenangan Nongshim RedForce di VCT Pacific 2026

Investor biasanya meminta kompensasi kupon yang lebih tinggi seiring tren kenaikan suku bunga. Kualitas aset emiten menjadi pertimbangan utama sebelum menempatkan dana.

Meskipun demikian, kegiatan refinancing tetap sulit ditunda oleh manajemen multifinance. Hal ini berkaitan dengan menjaga likuiditas dan mengatur profil jatuh tempo utang.

Kebutuhan Refinancing dan Struktur Pendanaan

Nilai surat utang multifinance yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp33,93 triliun.

Hingga Mei 2026, total penerbitan baru baru mencapai Rp12,93 triliun, meninggalkan selisih yang cukup besar.

Ahmad menambahkan bahwa selisih tersebut mengindikasikan kebutuhan penerbitan lanjutan masih ada, terutama karena puncak jatuh tempo diprediksi pada kuartal ketiga 2026.

Berbeda dengan perbankan, multifinance tidak bisa menghimpun dana murah dari masyarakat. Sumber pendanaan utama mereka meliputi pinjaman bank, penerbitan obligasi dan sukuk, pendanaan institusional, serta pinjaman luar negeri.

Pendanaan institusional menjadi tulang punggung operasional perusahaan pembiayaan dalam menyalurkan kredit ke konsumen.

Statistik Penerbitan Surat Utang 2026

Meskipun penuh kewaspadaan, data menunjukkan kenaikan aktivitas penerbitan dibandingkan tahun lalu. Berikut perbandingan data penerbitan periode Januari hingga Mei:

  • Nilai Penerbitan Mei 2025: Rp10,84 triliun
  • Nilai Penerbitan Mei 2026: Rp12,93 triliun
  • Persentase Kenaikan: 19,3% (YoY)
  • Target Jatuh Tempo 2026: Rp33,93 triliun

Data ini menunjukkan bahwa meskipun pasar menantang, aktivitas di bursa masih tumbuh 19,3%. Hal ini membuktikan industri multifinance tetap aktif mencari pendanaan untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Kenaikan ini juga memberi sinyal bahwa perusahaan besar tetap optimistis terhadap prospek ekonomi jangka panjang. Mereka terus menyesuaikan strategi keuangan di tengah fluktuasi suku bunga global dan lokal.

Para pelaku industri diharapkan mampu menjaga profil risiko yang aman sambil memenuhi kewajiban utang tepat waktu.

>>> Rupiah Melemah ke Rp17.926 per Dolar AS, Tertekan Faktor Global dan Domestik

Langkah hati-hati saat ini merupakan bagian dari manajemen risiko menghadapi tantangan ekonomi ke depan.