Industri otomotif Thailand menghadapi tekanan akibat membanjirnya kendaraan listrik (EV) murah dari China. Pelaku industri lokal merasa terancam dan mendesak pemerintah segera mengambil langkah proteksi.

Sebanyak 10 asosiasi otomotif yang mewakili lebih dari 1.500 pelaku usaha bersatu melobi pemerintah.

>>> Cara Bedakan Pelat Nomor Asli dan Ketok Magic Terbaru 2026, Ini Ciri Resminya

Mereka meminta kenaikan pajak bagi mobil listrik impor utuh atau Completely Built Up (CBU).

Desakan Kenaikan Pajak Cukai untuk Melindungi Ekosistem Lokal

Koalisi yang melibatkan Asosiasi Kendaraan Listrik Thailand (EVAT) dan Asosiasi Produsen Suku Cadang Otomotif Thailand (TAPMA) menyiapkan proposal darurat.

Mereka menuntut pemerintah menaikkan pajak cukai mobil listrik impor hingga 32 persen.

Langkah ini dianggap krusial untuk melindungi ekosistem otomotif nasional dari gempuran produk luar.

Pelaku industri memperingatkan Thailand berada di ambang krisis paling serius sepanjang sejarah transisi ke kendaraan listrik.

Pergeseran pasar menuju EV yang didominasi model impor murah asal China dinilai dapat melumpuhkan basis produksi lokal.

Hal ini berdampak langsung pada kelangsungan produsen suku cadang otomotif di Thailand.

Memproduksi kendaraan secara lokal di Thailand membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan mengimpor dari China.

Selisih biaya produksi diperkirakan mencapai 30 hingga 40 persen lebih mahal bagi pabrikan dalam negeri.

>>> Aleix Espargaro Ungkap Peran Baru Alberto Puig di MotoGP 2026

Kesenjangan biaya merugikan posisi produsen dan pemasok komponen lokal.

Oleh karena itu, asosiasi mendesak adanya selisih pajak signifikan sebesar 30 poin persentase antara mobil impor dan mobil rakitan dalam negeri.

Saat ini, kendaraan listrik yang diproduksi lokal hanya dikenakan pajak cukai sebesar 2 persen.