Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim memberikan pembelaan terkait kebijakan digitalisasi pendidikan.

Ia mengklaim bahwa pengadaan laptop Chromebook telah menghemat anggaran negara hingga Rp3,9 triliun.

>>> Honda Siapkan Motor Trail Listrik dengan Sensasi Mesin Bensin pada 2026

Pernyataan tersebut disampaikan Nadiem saat menghadiri persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).

Di hadapan majelis hakim, Nadiem menekankan bahwa efisiensi anggaran terjadi berkat penggunaan sistem operasi Chrome yang bersifat terbuka.

Menurutnya, pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya lisensi perangkat lunak.

Nadiem menjelaskan bahwa pilihan teknis tersebut secara signifikan menekan kebutuhan dana program digitalisasi pendidikan nasional.

Jika dibandingkan dengan sistem operasi berbayar, anggaran yang dibutuhkan akan jauh lebih besar.

Nadiem menyatakan bahwa nilai penghematan yang ia lakukan justru jauh melampaui angka kerugian negara yang dituduhkan dalam perkara ini.

Ia menilai kebijakan tersebut seharusnya dipandang sebagai langkah penghematan, bukan pelanggaran yang merugikan keuangan negara.

Dalam persidangan, ia memaparkan rincian simulasi biaya yang dipresentasikan tim pengadaan kepada dirinya.

Simulasi tersebut menunjukkan perbedaan biaya yang mencolok untuk setiap sekolah yang menerima bantuan perangkat teknologi.

Rincian Estimasi Biaya Per Sekolah

Berikut adalah estimasi biaya per sekolah berdasarkan sistem operasi yang digunakan:

  • Penggunaan penuh Windows (berbayar): sekitar Rp148 juta per sekolah.
  • Kombinasi Chrome dan Windows: sekitar Rp98 juta per sekolah.

Data tersebut menunjukkan bahwa pemilihan sistem operasi Chrome memberikan selisih biaya yang cukup besar bagi setiap satuan pendidikan.

Hal inilah yang menjadi dasar argumen Nadiem bahwa kebijakan tersebut sejak awal dirancang untuk efisiensi.