OECD Sebut Subsidi Mobil China Rp 11,4 Miliar Ibarat Doping
Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyoroti besarnya subsidi yang diterima produsen mobil China. Dalam laporan terbarunya, OECD menyebut praktik itu sebagai 'doping' di dunia otomotif.
Pada 2024, perusahaan mobil China menerima subsidi pemerintah senilai lebih dari $11,4 miliar. Jumlah itu jauh melampaui subsidi yang diterima produsen di kawasan lain.
>>> TV Lipat Bugatti 137 Inci Muncul dari Lemari dalam 45 Detik
Laporan OECD meneliti 15 sektor industri yang disubsidi pemerintah China dan membandingkannya dengan negara lain. Di beberapa sektor, perusahaan China menerima subsidi hingga delapan kali lipat dibandingkan pesaingnya.
Perbandingan Subsidi Global
Data OECD mengungkapkan bahwa pada 2019, produsen mobil China mengumpulkan hibah pemerintah, keringanan pajak penghasilan, dan pinjaman di bawah pasar senilai $5,122 miliar.
Rata-rata di Asia Pasifik saat itu adalah $1,93 miliar, Eropa $1,95 miliar, dan Amerika Utara $1,2 miliar.
Subsidi untuk perusahaan China melonjak tajam setelah pandemi COVID-19. Pada 2024, nilainya mencapai $11,394 miliar, sementara perusahaan Asia Pasifik hanya $3,05 miliar.
Eropa dan Amerika Utara juga naik, masing-masing menjadi $3,06 miliar dan $4,38 miliar, tetapi tetap jauh di belakang China.
>>> Misteri SUV Chrysler: Tampang Ioniq 5 Bergaya Cadillac
Satu-satunya saat perusahaan Amerika Utara mendekati level China adalah ketika paket penyelamatan diberikan kepada GM dan Chrysler selama krisis keuangan global.
Menurut OECD, nilai dukungan untuk produsen China dua kali lebih besar dalam nilai absolut dan empat kali lebih besar dalam nilai relatif dibandingkan dengan pesaing berbasis OECD.
OECD memperingatkan bahwa kesenjangan subsidi yang persisten dapat memengaruhi inovasi, persaingan yang adil, dan perdagangan global dari waktu ke waktu.
Subsidi besar telah membantu perusahaan seperti Chery, BYD, dan Geely menjadi pemain global serius, menjadikan China produsen mobil terbesar di dunia.
Namun, OECD menekankan bahwa praktik ini berpotensi mengganggu pasar internasional karena menciptakan lapangan bermain yang tidak setara.
>>> Audi Konfirmasi Q7 Generasi Ketiga, Tapi Posisinya Sudah Turun
Laporan OECD menggunakan data dari 525 perusahaan besar di seluruh dunia antara 2005 dan 2024, dengan meneliti laporan tahunan, laporan keuangan, dan dokumen kunci lainnya.
Update Terbaru
Inflasi Zona Euro Tembus 3,2% Akibat Perang Iran, ECB Siap Naikkan Suku Bunga
Rabu / 03-06-2026, 03:04 WIB
Tren Beli Polis Meningkat, Mengapa Pendapatan Asuransi 2026 Justru Turun?
Rabu / 03-06-2026, 03:04 WIB
BPS: Harga Beras Naik di Semua Lini Distribusi pada Mei 2026
Rabu / 03-06-2026, 03:04 WIB
WOM Finance Lebih Selektif Rilis Surat Utang di 2026, Strategi Jaga Keuangan Aman
Rabu / 03-06-2026, 03:04 WIB
Resmi! TORONTOTOKYO Gabung OG, Kejutan Bursa Transfer Esports 2026
Rabu / 03-06-2026, 03:00 WIB
Profil Nanik S Deyang, Sosok Asal Madiun yang Resmi Jadi Kepala BGN 2026
Rabu / 03-06-2026, 03:00 WIB
Piala Dunia 2026 Diprediksi Suntik Ekonomi AS Rp303 Triliun
Rabu / 03-06-2026, 03:00 WIB
Harga Batu Bara Tembus Level Tertinggi, Harga Emas Justru Anjlok Mengejutkan
Rabu / 03-06-2026, 02:57 WIB
Profil Agustina Arumsari, Wakil Kepala BGN Baru Eks Wakil Kepala BPKP
Rabu / 03-06-2026, 02:57 WIB
Aturan Baru Konsolidasi Bank di RUU P2SK 2026 Resmi Berlaku, Ini Penjelasannya
Rabu / 03-06-2026, 02:57 WIB
Oppo Uji Ponsel Mid Range dengan Baterai Raksasa 10.000mAh
Rabu / 03-06-2026, 02:56 WIB
Sony Siapkan Kejutan 2026, Bocoran Deretan Gadget Gaming Terbaru Paling Dinanti
Rabu / 03-06-2026, 02:56 WIB
Pesan Mendalam Cakrawala Airawan di Istiqomah Cinta: Cara Move On Usai Putus
Rabu / 03-06-2026, 02:56 WIB
FIFA Perluas Sanksi Gianluca Prestianni, Absen di Awal Piala Dunia 2026
Rabu / 03-06-2026, 02:56 WIB






