Harga telur ayam di tingkat produsen terus merosot dalam tiga bulan terakhir.

Kini harganya mencapai Rp20.600 per kilogram, jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) yang mencapai Rp23.000 per kg.

>>> Content Challenge Perpajakan DDTC 2026: Hadiah Rp10 Juta Tanpa Modal

Kondisi ini memicu ratusan peternak yang tergabung dalam kelompok Peternak Rakyat Blitar Raya untuk turun ke jalan di Blitar, Jawa Timur.

Mereka menuntut perlindungan dari pemerintah karena kerugian yang dialami semakin tidak terbendung.

Ketimpangan Harga Jual dan Biaya Produksi

Koordinator Peternak Rakyat Blitar Raya, Suyanto, mengungkapkan bahwa harga saat ini sudah jauh di bawah HPP.

Modal yang dibutuhkan peternak mencapai Rp23.000 per kilogram, sementara harga jual hanya Rp20.600.

Padahal, pemerintah melalui Harga Acuan Pembelian (HAP) telah menetapkan standar harga di kisaran Rp24.500 hingga Rp26.500 per kilogram.

Ketimpangan ini membuat para peternak rakyat kesulitan menutupi biaya operasional harian.

Faktor utama yang menyebabkan tekanan ekonomi bagi para peternak ayam meliputi:

  • Kenaikan harga pakan ayam kemasan yang melonjak sekitar Rp30.000 per karung isi 50 kilogram.
  • Harga jagung sebagai bahan baku pakan utama yang masih tinggi di angka Rp6.400 hingga Rp6.500 per kilogram.
  • Rendahnya daya serap pasar yang memicu penurunan harga jual telur di tingkat kandang secara berturut-turut.
  • Adanya kekhawatiran terkait rencana masuknya investor asing yang diprediksi akan mengancam eksistensi peternak skala kecil.

Masalah ini memaksa sebagian peternak untuk mengambil langkah ekstrem demi menjaga kelangsungan usaha mereka.

Suyanto menyebutkan banyak peternak terpaksa menjual aset pribadi atau barang berharga di rumah hanya untuk membeli pakan ayam.

Kondisi Pasar Berdasarkan Data Nasional

Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia menunjukkan adanya fluktuasi harga yang tidak menguntungkan peternak.